PDI Perjuangan: Banteng yang Tak Pernah Jinak dan Pertaruhan Demokrasi 2029

- Editor

Senin, 12 Januari 2026 - 14:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarno Putri pada kongres ke-VI partai PDI-P

Caption : Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarno Putri pada kongres ke-VI partai PDI-P

Oleh : Chaidir Toweren

TribuneIndonesia.com Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) selalu menjadi menu utama dalam setiap perbincangan politik nasional. Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, partai yang lahir dari rahim perlawanan terhadap otoritarianisme ini tidak pernah benar-benar keluar dari panggung utama kekuasaan. Di tengah naik-turun kepercayaan publik terhadap partai politik, PDI-P justru tampil sebagai anomali: dicaci, dikritik, bahkan diramalkan tumbang namun tetap berdiri kokoh sebagai jawara pemilu.
Sejarah mencatat, sejak Pemilu 1999 hingga Pemilu 2024, PDI-P konsisten menjadi salah satu kekuatan dominan.

Bahkan pada Pemilu 2024 lalu, ketika berbagai prediksi menyebutkan “era banteng merah akan berakhir”, hasil di bilik suara berkata lain. PDI-P memang kehilangan sebagian kursi dan suara, namun narasi “kejatuhan” itu tak pernah benar-benar terbukti. Banteng tetap bercokol, meski luka di sana-sini.

Partai ini identik dengan sosok sentral Megawati Soekarnoputri. Figur yang oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial, oleh pendukungnya dipandang sebagai simbol konsistensi ideologis. Megawati bukan sekadar ketua umum; ia adalah penanda arah, penjaga garis, dan sekaligus tembok terakhir yang membuat PDI-P berbeda dari partai-partai lain yang mudah berbelok mengikuti angin kekuasaan.

Namun justru karena dominasi dan kekhasan itulah, PDI-P selalu menjadi sasaran empuk. Ada ungkapan lama dalam politik: tak ada kekuasaan tanpa musuh. Semakin besar pengaruh, semakin ramai upaya untuk menggerogoti. Kini, menjelang Pemilu 2029, mulai terdengar bisik-bisik tentang upaya “merobek lumbung-lumbung suara” PDI-P baik di basis tradisionalnya di Jawa, maupun di kantong-kantong pemilih ideologis di luar Jawa.

Upaya itu bukan barang baru. Sejak dua dekade terakhir, PDI-P kerap dihadapkan pada strategi pembelahan suara: pembentukan partai baru dengan ceruk ideologis serupa, infiltrasi elite lokal, hingga pembajakan kader di daerah. Namun pengalaman menunjukkan, meruntuhkan PDI-P bukan perkara mudah. Partai ini bukan hanya mesin elektoral, tetapi juga jejaring kultural dan emosional yang telah lama tertanam di akar rumput.

Di tengah berbagai manuver politik tersebut, sikap PDI-P terhadap isu demokrasi elektoral kembali mencuri perhatian. Ketika wacana penghapusan pemilihan kepala daerah secara langsung atau pilkada serentak kembali mengemuka dengan alasan efisiensi anggaran dan stabilitas politik PDI-P justru tampil paling lantang menolak.

Bagi PDI-P, pilkada langsung bukan sekadar mekanisme teknis, melainkan esensi demokrasi itu sendiri. Pemilihan kepala daerah melalui DPRD, menurut pandangan mereka, berpotensi mengerdilkan kedaulatan rakyat. Suara publik yang seharusnya disalurkan langsung bisa tereduksi menjadi transaksi politik elite di ruang-ruang tertutup.

Sikap ini menarik, mengingat PDI-P sering dituding sebagai partai yang terlalu sentralistis dan elitis. Namun dalam isu pilkada, partai ini justru mengambil posisi populis bahkan idealis. Mereka menegaskan bahwa demokrasi memang mahal, tetapi biaya demokrasi tidak boleh dijadikan alasan untuk menarik kembali hak rakyat memilih pemimpinnya secara langsung.

Baca Juga:  Ada Apa dengan Desa Paya Kulbi? Warga Tuntut Transparansi Bantuan BLT

Di sinilah paradoks PDI-P muncul. Di satu sisi, partai ini kerap dikritik karena disiplin internal yang ketat dan dominasi figur ketua umum. Di sisi lain, ia menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan mekanisme demokrasi elektoral yang paling nyata dirasakan rakyat di tingkat lokal.

Penolakan PDI-P terhadap penghapusan pilkada langsung juga dapat dibaca sebagai strategi politik jangka panjang. Partai ini menyadari bahwa kekuatan utamanya justru terletak pada kedekatan dengan basis pemilih akar rumput. Pilkada langsung memberi ruang bagi kader-kader daerah PDI-P untuk bertarung dengan modal kerja politik, bukan sekadar lobi elite di parlemen daerah.

Sebaliknya, jika pilkada dikembalikan ke DPRD, kontestasi akan semakin elitis dan transaksional. Dalam skema seperti itu, partai dengan sumber daya finansial dan jejaring oligarkis yang kuat berpotensi lebih diuntungkan. PDI-P tampaknya paham betul risiko ini terutama menjelang 2029, ketika peta politik diprediksi semakin cair dan pragmatis.

Tidak mengherankan jika sikap PDI-P kerap berseberangan dengan sebagian kawan mereka di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Perbedaan pandangan ini menunjukkan satu hal penting: PDI-P tidak selalu memilih jalan paling nyaman secara politik. Ada momen-momen tertentu ketika partai ini rela berdiri sendirian demi mempertahankan posisi ideologisnya.
Tentu saja, publik berhak untuk tetap kritis. PDI-P bukan partai tanpa cela.

Rekam jejak kader di pemerintahan daerah, konflik internal, hingga isu korupsi yang menyeret sejumlah elite menjadi catatan yang tak bisa dihapus begitu saja. Namun dalam lanskap politik yang semakin pragmatis, konsistensi sikap, betapapun tidak populer menjadi barang langka.

Menuju 2029, tantangan PDI-P bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Regenerasi kepemimpinan, adaptasi terhadap perubahan demografi pemilih muda, serta kemampuan membaca isu-isu baru seperti ekonomi hijau, digitalisasi, dan keadilan sosial akan menjadi ujian sesungguhnya. Lumbung suara tidak cukup dipertahankan dengan romantisme sejarah; ia harus dirawat dengan kerja nyata dan narasi yang relevan.

Namun satu hal tampaknya pasti: PDI-P belum habis. Banteng merah mungkin lelah, mungkin berdarah, tetapi belum jinak. Selama partai ini masih mampu menempatkan dirinya sebagai pembela suara rakyat, setidaknya dalam isu-isu krusial seperti pilkada langsung, ia akan tetap menjadi aktor sentral dalam drama politik Indonesia.

Pada akhirnya, PDI-P adalah cermin paradoks demokrasi kita: dicintai sekaligus dibenci, dikritik namun dirindukan, digempur tetapi tak tumbang. Menjelang 2029, pertanyaannya bukan lagi apakah PDI-P akan jatuh, melainkan sejauh mana partai ini mampu bertahan tanpa kehilangan jati dirinya.

Berita Terkait

Tokoh Pemuda Gayo Ucapkan Selamat atas Penunjukan Rian Firmansyah sebagai Plt Ketua Demokrat Aceh
_*Rehab Rekonstruksi Hunian Sementara (Huntara) Graha Kita Desa Seuneubok Saboh Sudah di atas Rata-rata Mencapai Progresnya*_
Rutan Kelas I Medan Luncurkan LAKOSTE, Layanan Kunjungan Naik Kelas
Ketua DPW P2BMI Tantang Camat Pagar Merbau Buka-Bukaan di Polresta, Dugaan Tanda Tangan di SK Tanah Eks PTPN Menguat
Aksi Mogok Nakes RSUD Datu Beru Disorot GMNI: Etika Profesi, Pelayanan Publik, dan Potensi Pelanggaran Hukum
Kepala Ruangan Rawat Inap RSUD Datu Beru Khawatir Pelayanan Pasien Tak Maksimal Akibat Mogok Nakes
Nakes Masih Mogok Kerja, Sejumlah Ruang Rawat Inap RSUD Datu Beru Tak Difungsikan
HMI dan GMNI Aceh Tengah Desak Bupati Evaluasi Manajemen RSUD Datu Beru
Berita ini 29 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:46

BAKTI YONIF 8 MAR PASTIKAN SEKOLAH BERSIH DARI SAMPAH SISA BANJIR

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:52

Polres Pidie Kerahkan Mobil AWC untuk Padamkan Kebakaran di SPBU Kuala Beukah

Jumat, 23 Januari 2026 - 03:37

TNI dan Masyarakat Karya Bakti di Peusangan Selatan

Senin, 19 Januari 2026 - 12:46

Tancap Gas hingga Kehabisan Bensin, Dua Pelaku Curanmor Tersungkur di Tangan Polisi dan Warga

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:23

Kapolrestabes Medan Pimpin KRYD Dini Hari, Barak Narkoba Dibakar, 8 Orang Diamankan

Jumat, 16 Januari 2026 - 03:42

DANLANAL MALANG PIMPIN UPACARA HARI DHARMA SAMUDERA 2026

Selasa, 13 Januari 2026 - 01:10

Babinsa Kodim 0117/ATAM Pertaruhkan Nyawa Evakuasi Warga Terjebak Banjir di Aceh Tamiang

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:41

Tujuh Remaja Gagal Tawuran, Polisi Amankan Busur Panah di Tanjung Morawa

Berita Terbaru

Kriminal

Spesialis Pencuri Sparepart Motor Diringkus Dini Hari

Senin, 26 Jan 2026 - 09:25