Oleh : Chaidir Toweren
TribuneIndonesia.com
Beberapa tahun terakhir, tiap bulan Agustus di Aceh selalu punya warna tersendiri. Lapangan-lapangan dipenuhi sorak sorai. Anak-anak tertawa, orang dewasa bersorak, lumpur menjadi arena perjuangan, dan hadiah di atas tiang pinang menjadi simbol harapan. Tapi tahun ini berbeda. Banyak daerah melarang lomba panjat pinang. Alasannya sederhana, sekaligus menggelikan: dianggap warisan penjajahan.
Inilah potret nyata dari kebijakan yang lahir bukan dari akal sehat, tapi dari rasa takut pada simbol. Panjat pinang tiba-tiba jadi musuh karena konon dulunya diciptakan Belanda untuk menghibur diri dengan menonton pribumi saling injak. Kita, yang katanya sudah 80 tahun merdeka, masih gemetar berhadapan dengan bayang-bayang masa lalu. Bahkan terhadap sebatang pinang yang ditanam rakyat sendiri.
Pertanyaannya: apakah semua yang lahir di zaman kolonial otomatis harus dibuang? Kalau iya, maka sebagian besar kota, jalan, jembatan, bahkan sistem pemerintahan kita hari ini pun harus dibongkar. Apakah bahasa Indonesia yang disusun semasa Hindia Belanda juga harus ditolak? Apakah kalender nasional yang ditetapkan di bawah sistem kolonial juga harus dihapus? Tapi mengapa hanya panjat pinang yang dibidik?
Jawabannya sederhana: karena mudah. Karena panjat pinang adalah tradisi rakyat kecil. Tidak perlu rapat panjang, kajian mendalam, atau debat publik. Cukup satu surat edaran, dan semuanya lenyap.
Ironisnya, di tengah semua itu, kita lupa bahwa makna panjat pinang justru bertolak belakang dari semangat kolonialisme. Ia adalah gambaran paling nyata dari gotong royong. Simbol bahwa untuk mencapai puncak, seseorang tidak bisa sendirian. Harus ada yang menopang, mengalah, mengangkat, dan menahan beban dari bawah. Panjat pinang mengajarkan bahwa di balik setiap keberhasilan, ada banyak orang yang mungkin tidak tampak di kamera, tapi sangat menentukan.
Lomba ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah peragaan ulang dari semangat kebersamaan yang menjadi pondasi bangsa ini merdeka. Dalam lumpur itu, ada nilai-nilai yang bahkan tidak lagi diajarkan di sekolah: solidaritas, kerja sama, strategi, kesabaran, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Tapi sayangnya, semua nilai itu kini dianggap tidak lebih penting daripada narasi “membersihkan budaya dari warisan kolonial”. Sebuah alasan yang terdengar agung, tapi dalam praktiknya justru menindas ekspresi rakyat yang paling jujur.
Apa sebenarnya yang kita takuti? Apakah kita benar-benar merasa terjajah karena melihat warga memanjat tiang pinang? Atau sebenarnya kita hanya bersembunyi di balik narasi sejarah untuk menutupi ketidakmampuan membaca makna zaman?
Kita hidup di era ketika rakyat tidak lagi sekadar menunggu hadiah dari atas, tapi justru membangun sistem dari bawah. Panjat pinang adalah metafora tentang itu. Bahwa setiap orang punya peran, bahwa kemenangan adalah hasil dari kerja bersama, bukan kerja segelintir elit. Dan barangkali, inilah yang tidak disukai: bahwa rakyat bisa bersatu tanpa dikomando, bisa tertawa tanpa disuapi, dan bisa menciptakan perayaan sendiri tanpa campur tangan kekuasaan.
Pelajaran paling penting dari panjat pinang justru lahir dari lumpurnya. Di sana, status sosial luluh. Tak penting siapa guru, siapa tukang bangunan, siapa anak pejabat. Semuanya sama-sama jatuh, sama-sama tertawa, dan sama-sama berjuang untuk mencapai puncak. Di situ, kemerdekaan terasa nyata, bukan dalam seremoni, bukan dalam baliho, tapi dalam peluh dan tawa yang jujur.
Jadi, ketika panjat pinang dilarang, sesungguhnya yang sedang kita larang adalah cermin dari diri kita sendiri. Kita tak lagi berani berkotor-kotor, tak lagi mau bekerja sama, tak lagi ingin mengingat bahwa setiap keberhasilan harus dibayar dengan kerja keras dari banyak orang.
Dan lebih tragis lagi, pelarangan ini datang bukan dari pihak asing, bukan dari sisa-sisa penjajah, tapi dari kita sendiri. Dari mereka yang seharusnya memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari Belanda, tapi juga tentang keberanian berpikir merdeka. Tentang tidak takut pada simbol, dan berani menggali makna.
Karena terkadang, yang paling menjajah bukan lagi Belanda. Tapi ketakutan kita sendiri untuk berpikir jernih dan berdiri di atas kaki sendiri. (#)