Penulis: Ilham Gondrong
TribuneIndonesia.com
Di sudut kamar sederhana yang diterangi cahaya senja, seorang pemuda berdiri mematung di dekat jendela. Di tangannya tergenggam sebuah alat musik tua—sebuah biola yang warnanya telah pudar dimakan usia. Ia memandangi biola itu lama, jari-jarinya menyusuri setiap lekuk dan ukiran di tubuhnya, lalu perlahan meneteslah air matanya, jatuh di atas kayu lusuh itu. Biola ini bukan sekadar alat musik. Biola ini adalah kenangan. Adalah cinta. Adalah air mata dan pengorbanan yang tak ternilai harganya.
Namanya Darma. Pemuda itu sedang mengenang ayahnya, sosok yang kini hanya tinggal dalam ingatan. Sosok yang telah pergi meninggalkan dunia, tetapi tak pernah pergi dari hatinya. Ayah yang dulu menemaninya dalam suka dan duka, dalam tawa dan tangis. Mereka hanya berdua, tinggal di sebuah kota padat yang tak pernah benar-benar tidur. Sejak kecil, Darma sudah menjadi satu-satunya cahaya dalam hidup sang ayah.
Setiap pagi, ayahnya mengayuh sepeda tuanya mengantar Darma ke sekolah. Wajahnya selalu ramah, meski tubuhnya lelah. Tak peduli hujan atau panas, sepeda itu tetap melaju. Dan Darma, yang masih kecil saat itu, selalu merasa menjadi anak paling beruntung di dunia. Ia tahu betul, ayahnya bekerja serabutan, apa saja dikerjakan demi sesuap nasi dan pendidikan untuknya.
Suatu sore, saat Darma pulang sekolah, ia memberanikan diri berkata kepada ayahnya, “Ayah, aku ingin punya biola. Aku ingin belajar musik.”
Ayahnya terdiam sejenak, lalu tersenyum dan memeluk Darma. “Benarkah kamu ingin biola, nak?” tanya sang ayah, matanya berkaca.
“Iya, Ayah,” jawab Darma sambil mengangguk pelan. “Tapi… aku tahu, Ayah belum punya uang…”
Sang ayah mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Tak apa, nak. Kalau itu yang kamu inginkan, Ayah akan berusaha. Ayah akan bekerja lebih keras agar kamu bisa punya biola.”
Hari-hari pun berlalu. Sang ayah mulai bekerja lebih berat dari biasanya. Ia menjadi kuli angkut di pasar pagi, kemudian siangnya menjadi tukang kebun, malamnya menarik gerobak sampah. Tak jarang tubuhnya demam karena kelelahan, tapi ia tetap memaksakan diri. Caci maki dan hinaan yang diterimanya dari orang-orang yang memandang rendah pekerjaannya tak pernah dia pedulikan. Baginya, senyum anaknya adalah segalanya.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan, uang itu perlahan terkumpul. Sang ayah menahan lapar, menahan lelah, menahan semua rasa sakit, hanya demi satu hal: membahagiakan Darma. Hingga akhirnya, pada suatu malam yang tenang, sang ayah memanggil Darma ke ruang tengah.
“Anakku sayang…”
“Iya, Ayah?”
“Uang Ayah sudah cukup. Besok kita beli biola itu, ya.”
Wajah Darma berbinar. Ia langsung memeluk ayahnya dengan erat. “Terima kasih, Ayah. Aku janji akan jaga biola itu baik-baik.”
“Ini hadiah dari Ayah. Bukan sekadar alat musik, tapi wujud cinta Ayah untukmu,” ujar sang ayah dengan suara pelan namun penuh makna. “Tidurlah, nak. Besok kita punya janji besar.”
Keesokan paginya, seperti biasa, sang ayah mengantar Darma ke sekolah. Namun, ada yang berbeda pagi itu. Ayahnya diam saja selama perjalanan. Tak ada obrolan ringan seperti biasanya. Tatapannya kosong, wajahnya seperti menyimpan banyak beban. Darma merasa heran, tapi tak berani bertanya.
Saat sampai di sekolah, ayahnya berkata lirih, “Tunggu Ayah di depan sekolah nanti ya, jangan pulang dulu. Ayah akan kembali.”
Darma mengangguk, meski dalam hatinya masih ada rasa aneh. Hari itu ia belajar seperti biasa, tapi pikirannya terus tertuju pada ayahnya. Ia tak sabar ingin melihat biola impiannya.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Darma duduk di halte depan sekolah. Menunggu. Satu jam, dua jam berlalu. Ayahnya belum juga datang. Ia mulai resah. Hatinya gelisah. Tapi ia tetap menunggu.
Di saat yang sama, sang ayah sedang berada di toko alat musik. Ia memandangi biola yang terbungkus rapi, memeluknya seolah itu adalah harta karun. Dengan penuh haru, ia membayangkan wajah anaknya saat menerimanya nanti.
“Ini… hadiah kecil dari Ayah untuk anak Ayah…” gumamnya pelan sambil tersenyum.
Ia mengayuh sepeda tuanya dengan cepat menuju sekolah Darma. Sesampainya di ujung jalan dekat sekolah, ia melihat Darma duduk menunggu. Ia pun memanggil dengan penuh semangat, “Anakku… Anakku… ini Ayah bawakan biolamu…”
Darma menoleh, dan matanya langsung berbinar. Ia melambaikan tangan. Namun, hanya dalam hitungan detik, kejadian tragis itu terjadi.
Sebuah mobil melaju kencang, menghantam sepeda sang ayah tepat di depan mata Darma. Tubuh sang ayah terpental, biola itu terlempar ke tepi jalan.
“Ayah!!!” teriak Darma histeris sambil berlari memeluk tubuh ayahnya yang bersimbah darah.
Ayahnya masih sempat membuka mata. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata, “Jaga diri kamu baik-baik… Jaga biola itu… Itu… cinta Ayah padamu…”
Lalu, nafasnya terhenti. Tubuhnya terdiam. Ayahnya pergi, tepat di hari ketika ia ingin membuat anaknya tersenyum.
Darma memeluk tubuh ayahnya erat-erat sambil menangis tak henti. “Jangan tinggal aku, Ayah… Jangan tinggal aku…”
Kini, bertahun-tahun setelah kejadian itu, Darma telah tumbuh dewasa. Biola itu masih ada bersamanya. Setiap ia memainkannya, ia merasa seperti sedang berbicara dengan ayahnya. Nada-nada yang keluar dari senar itu bukan hanya musik, tapi cerita. Cerita tentang pengorbanan, tentang cinta yang tak bersyarat, tentang kehilangan yang begitu dalam.
Ia tahu, ayahnya telah tiada. Tapi cinta ayahnya, tak pernah pergi. Biola itu menjadi saksi cinta terbesar dalam hidupnya. Dan selama hidupnya, ia akan terus menjaga dan memainkan biola itu sebagai bentuk cinta dan penghormatan untuk ayah yang telah memberikan segalanya untuknya.
Ilham TribuneIndonesia.com