Dapur MBG Sudah Dibangun Sesuai Standar, Haji Abdul Hamid Joka Padang Minta Nasib Investasi Pengelola Diperhatikan

- Editor

Kamis, 10 September 2026 - 06:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUBULUSSALAM —tribuneindonesia.com Wacana pemanfaatan kantin sekolah sebagai bagian dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian dari Haji Abdul Hamid Padang alias Joka, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Subulussalam sekaligus Ketua DPW Himpak Provinsi Aceh.

Wacana tersebut berkaitan dengan kemungkinan perubahan mekanisme penyediaan dan pengolahan makanan dalam program MBG. Selama ini, pelaksanaan program antara lain melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai unit pelayanan penyedia makanan bagi penerima manfaat.

Menanggapi hal tersebut, Haji Abdul Hamid meminta agar setiap rencana perubahan mekanisme dilakukan melalui kajian yang matang dan mempertimbangkan kondisi seluruh pihak yang selama ini telah terlibat dalam pelaksanaan MBG.

Menurutnya, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah investasi para pengelola dapur MBG yang telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung pelaksanaan program.

“Pemerintah pusat perlu mengkaji dampak yang mungkin dialami para pengelola dapur MBG yang sudah menanamkan modal cukup besar. Kalau ada perubahan sistem, perlu ada kejelasan bagaimana keberadaan investasi yang sudah dikeluarkan tersebut,” ujar Haji Abdul Hamid.

Ia menjelaskan, investasi pengelola tidak hanya berkaitan dengan pembangunan atau penyediaan bangunan dapur, tetapi juga mencakup peralatan, tenaga kerja dan kebutuhan operasional lainnya.

Karena itu, menurutnya, aspek tersebut layak menjadi salah satu pertimbangan sebelum pemerintah menetapkan perubahan mekanisme pelaksanaan program.

“Kalau memang ada perubahan sistem, kita berharap kondisi para pengelola yang sudah mengeluarkan modal juga menjadi bagian dari pertimbangan. Jangan sampai perubahan kebijakan justru menimbulkan kerugian bagi pihak yang sebelumnya sudah ikut mendukung program,” katanya.

Kesiapan dan Standar Harus Menjadi Perhatian Selain persoalan investasi, Haji Abdul Hamid juga menyoroti kesiapan fasilitas sekolah apabila nantinya kantin sekolah dilibatkan dalam penyediaan makanan MBG.

Ia mengatakan kondisi fasilitas di setiap sekolah tidak selalu sama. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan standar yang jelas terkait fasilitas pengolahan makanan, sanitasi, tenaga pengolah, keamanan pangan serta kualitas makanan.

“Kalau kantin sekolah memang akan dilibatkan, tentunya harus dipastikan fasilitas dan pengelolaannya memenuhi standar. Yang paling utama adalah makanan yang diberikan kepada anak-anak aman dan memenuhi kebutuhan gizi,” ujarnya.

Haji Abdul Hamid menambahkan, sistem SPPG yang selama ini berjalan juga dapat terus dievaluasi dan disempurnakan apabila masih terdapat kekurangan.

Baca Juga:  Program Inklusi Pendidikan Antar Deli Serdang ke Lima Besar Penghargaan Pembangunan Nasional

Menurutnya, evaluasi merupakan bagian penting dalam pelaksanaan sebuah program. Namun, setiap perubahan hendaknya tetap berdasarkan kajian dan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

Minta Kejelasan terhadap Investasi Pengelola Haji Abdul Hamid juga menyoroti investasi yang telah dikeluarkan para pengelola dapur MBG dalam rangka memenuhi ketentuan dan mendukung pelaksanaan program.

Ia berharap apabila pemerintah nantinya melakukan perubahan mekanisme dan melibatkan fasilitas sekolah, terdapat penjelasan yang jelas mengenai keberlanjutan fasilitas serta investasi yang sebelumnya telah dikeluarkan.

“Sebelumnya pemerintah tentu sudah memiliki kajian dan ketentuan dalam pelaksanaan MBG. Para pengelola kemudian menyiapkan fasilitas sesuai dengan ketentuan tersebut. Kalau sekarang ada wacana pengalihan ke sekolah, menurut saya perlu dijelaskan bagaimana nasib fasilitas dan investasi yang sudah mereka keluarkan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut bukan berarti menolak program MBG maupun upaya pemerintah melakukan evaluasi.

Sebaliknya, ia mendukung adanya perbaikan selama dilakukan secara terukur, transparan dan mempertimbangkan seluruh pihak yang terlibat.

“Kita mendukung program MBG. Hanya saja, kalau ada perubahan kebijakan, sebaiknya disampaikan dengan jelas agar masyarakat dan para pengelola tidak bingung. Semua pihak tentu berharap program ini berjalan dengan baik,” tuturnya.

Kepentingan Peserta Didik Tetap Menjadi Prioritas Haji Abdul Hamid mengatakan kepentingan peserta didik sebagai penerima manfaat harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan terkait MBG.

Menurutnya, baik sistem SPPG maupun kemungkinan pemanfaatan fasilitas sekolah perlu dinilai berdasarkan kesiapan fasilitas, keamanan pangan, kualitas gizi, efektivitas pelayanan dan keberlanjutan program.

Ia berharap pemerintah pusat dapat membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, pihak sekolah serta para pengelola dapur MBG sebelum menerapkan perubahan mekanisme secara lebih luas.

“Intinya, kami berharap pengelolaan MBG tetap diberikan kepada pihak yang selama ini sudah menjalankan dan mengelolanya. Mereka sudah berinvestasi, menyiapkan fasilitas serta menjalankan program tersebut. Kalau ada evaluasi atau perbaikan, tentu kami mendukung, tetapi keberlanjutan pengelola yang sudah ada juga perlu menjadi pertimbangan pemerintah,” ujar Haji Abdul Hamid Padang alias Joka.

Ia kembali menegaskan bahwa tujuan utama program harus tetap menjadi perhatian bersama.

“Yang terpenting anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi dan aman. Kita berharap pemerintah mengambil keputusan melalui kajian yang matang dan mempertimbangkan semua pihak yang terlibat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Yayasan Tunas 08 Dorong Pengelolaan MBG Tetap di Tangan Mitra
PETA Dukung SPPG Berlanjut, Pelibatan Kantin Sekolah Perlu Dikaji Matang
Kakanwil Ditjenpas DK Jakarta Saksikan Langsung Pemberangkatan 88 warga binaan dari Lapas Cipinang Menuju Nusakambangan
Jasa Raharja Ajak “Jasfren” Bergerak Bersama Menjaga Keselamatan
Kantin Kantor Camat Batang Kuis Disorot, Wartawan Mengaku Dibentak, GRPK Desak Pengelola Diganti
Jangka Keutapang Gelar Rembuk Stunting, Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
Pj. Keuchik Jangka Keutapang Salurkan BLT kepada 33 Penerima
Raja Ampat Belum Punya Payung Adat Bersama, Carles Imbir: Pengakuan OAP Harus Kembali ke Marga dan Suku
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 07:00

PETA Dukung SPPG Berlanjut, Pelibatan Kantin Sekolah Perlu Dikaji Matang

Kamis, 10 September 2026 - 06:37

Dapur MBG Sudah Dibangun Sesuai Standar, Haji Abdul Hamid Joka Padang Minta Nasib Investasi Pengelola Diperhatikan

Rabu, 9 September 2026 - 13:04

Raja Ampat Belum Punya Payung Adat Bersama, Carles Imbir: Pengakuan OAP Harus Kembali ke Marga dan Suku

Rabu, 9 September 2026 - 12:41

Raja Ampat Belum Punya Payung Adat Bersama, Carles Imbir: Pengakuan OAP Harus Kembali ke Marga dan Suku

Rabu, 9 September 2026 - 11:49

Ketua PPWI Aceh Tamiang SPPG Layak Dilanjutkan, BGN Harus Perkuat Pengawasan

Rabu, 9 September 2026 - 09:39

Pihak Pertamina Simeulue Tidak Hadir Acara RDP Oleh DPRK Simeulue Cari Jalan Keluar Kelangkaan Bio Solar

Rabu, 9 September 2026 - 09:36

Romo Muhammad Syafii Gagas Simposium Nasional KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa

Rabu, 9 September 2026 - 07:27

Karhutla Meluas Hingga Pesisir Girian Bawah, Puluhan Petugas Damkar Bitung Berjibaku Amankan Pemukiman

Berita Terbaru