Jakarta | Tribuneindonesia.com –Markas Besar Korps Marinir TNI Angkatan Laut secara resmi membantah unggahan viral di media sosial yang mengeklaim adanya dukungan prajurit baret ungu terhadap gerakan separatisme, Kamis (16/04/26).
Konten yang disebarkan oleh akun bernama “Daily Papua” tersebut dipastikan sebagai informasi bohong atau hoaks yang sengaja dirancang untuk menyesatkan opini publik.
Pihak dinas penerangan menegaskan bahwa materi visual yang diunggah oleh akun tersebut merupakan hasil manipulasi digital.
Pelaku disinyalir menggabungkan dokumentasi asli kegiatan prajurit dengan elemen tambahan, seperti bendera dan tulisan persuasif, yang sama sekali tidak merepresentasikan fakta di lapangan.
Berdasarkan penelusuran internal, foto asli yang digunakan dalam konten hoaks tersebut sebenarnya adalah dokumentasi internal Korps Marinir.
Foto itu diambil saat momen pengarahan prajurit dalam rangka persiapan serta pembinaan personel menyambut peringatan HUT TNI Tahun 2025.
Klarifikasi ini dikeluarkan guna membentengi kepercayaan masyarakat terhadap institusi militer.
Korps Marinir menyatakan bahwa tidak ada satu pun kegiatan, baik yang bersifat formal maupun nonformal di lingkungan satuan, yang berafiliasi atau memberikan dukungan terhadap gerakan “Papua Merdeka”.
Sebagai alat pertahanan negara, Korps Marinir TNI AL menegaskan komitmennya untuk tetap teguh berdiri di atas pilar Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
Seluruh personel terikat pada Delapan Wajib TNI yang memfokuskan pengabdian sepenuhnya demi menjaga kedaulatan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Fenomena penyebaran konten menyesatkan ini diidentifikasi sebagai bagian dari upaya disinformasi sistematis.
Tindakan tersebut dinilai sangat berbahaya karena berpotensi memicu polarisasi di tengah masyarakat serta mengganggu stabilitas keamanan nasional yang tengah kondusif.
Guna meredam dampak dari kabar burung ini, Dinas Penerangan Korps Marinir mengimbau warga net agar lebih selektif dalam mengonsumsi konten digital.
Masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru menyebarluaskan informasi yang kebenarannya belum terverifikasi secara hukum maupun faktual.
Sikap kritis dan bijak dalam berselancar di ruang siber menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam skenario adu domba.
Korps Marinir berharap publik dapat menyaring setiap informasi yang beredar dengan mengedepankan logika serta pengecekan ulang terhadap data yang diterima.
Sebagai langkah terakhir, otoritas militer menyarankan agar masyarakat hanya merujuk pada kanal komunikasi resmi milik TNI atau TNI Angkatan Laut.
Hal ini penting dilakukan guna mendapatkan informasi yang akurat, valid, serta dapat dipertanggungjawabkan secara institusional. (talia)


















