Jakarta | Tribuneindonesia.com –Gelaran akbar Musyawarah Nasional (Munas) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) resmi menabuh genderang dimulainya agenda besar organisasi.
Bertempat di Grand Ballroom Minhaajurrosyidiin, Jakarta, Selasa (7/04/26), forum tertinggi ini menjadi titik pijak baru bagi arah gerak lembaga ke depan.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, secara seremonial membuka perhelatan tersebut di hadapan ribuan peserta. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Munas kali ini bukan sekadar rutinitas lima tahunan, melainkan momentum untuk melakukan transformasi organisasi secara menyeluruh.
Chriswanto menginstruksikan kepada seluruh kader agar LDII mampu melampaui batas-batas internal. Baginya, kekuatan organisasi tidak akan berarti jika tidak diiringi dengan kehadiran nyata yang memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat luas di luar lingkaran pengurus.
”LDII tidak boleh hanya kuat di internal. Kita harus hadir di tengah masyarakat, memberi solusi nyata, memperkuat nilai kebangsaan, dan menjaga persatuan,”
ungkap KH Chriswanto dengan nada tegas saat memberikan arahan kepada para delegasi.
Lebih lanjut, ia menyoroti urgensi perubahan gaya dakwah di era modern yang semakin kompleks. Chriswanto berpendapat bahwa pendekatan yang bersifat teoretis dan normatif saja sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan umat dalam menghadapi tantangan zaman.
Ia mengingatkan bahwa esensi dari setiap kegiatan keagamaan harus bermuara pada aksi sosial yang konkret. Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga dakwah diukur dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam keseharian mereka.
”Dakwah harus membumi. Harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan hanya menjadi wacana,”
tambah Chriswanto, menegaskan komitmen LDII untuk membawa perubahan yang nyata dan terukur bagi bangsa.
Acara pembukaan ini pun semakin berbobot dengan kehadiran Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochamad Irfan Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Irfan ini menyampaikan apresiasi mendalam atas peran serta LDII dalam merawat tenun kebangsaan selama ini.
Dalam pandangan Gus Irfan, LDII memegang posisi yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.
Ia menilai organisasi ini memiliki kapasitas yang mumpuni untuk berperan sebagai mediator yang efektif antara kepentingan negara dan kebutuhan rakyat.
”LDII memiliki kekuatan sosial yang besar. Ini harus dimanfaatkan untuk menjadi penghubung antara pemerintah dan umat, agar kebijakan negara bisa dipahami dan diterima dengan baik,”
tutur sang Menteri dalam sambutannya.
Gus Irfan juga menekankan bahwa tantangan global yang dihadapi Indonesia saat ini hanya bisa diatasi melalui sinergi yang kokoh.
Ia percaya bahwa kolaborasi antar elemen bangsa adalah kunci utama agar Indonesia tetap berdaulat dan disegani di mata internasional.
”Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri. Ketika kita berjalan bersama, bangsa ini tidak hanya kuat, tetapi juga dihormati dunia,”
tegasnya, menggarisbawahi pentingnya semangat kegotongroyongan dalam pembangunan nasional.
Dukungan dari pemerintah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa organisasi berbasis massa seperti LDII memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga stabilitas.
Hal ini relevan mengingat posisi Indonesia yang terus berupaya menjaga moderasi beragama di tengah dinamika dunia.
Di sisi lain, semarak Munas X ini juga dirasakan oleh delegasi dari ujung utara Nusantara.
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Sulawesi Utara hadir dengan kekuatan penuh, membawa misi khusus untuk menyuarakan aspirasi dari daerah.
Rombongan asal Sulawesi Utara tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPW, Drs. H. Djafar Wonggo, M.T., serta Sekretaris H. Soenarwan, S.T.
Kehadiran mereka di Jakarta menunjukkan soliditas pengurus di tingkat wilayah dalam mendukung keputusan-keputusan strategis organisasi.
Tidak tanggung-tanggung, jajaran Ketua DPD dari Manado, Bitung, hingga Kepulauan Sangihe turut serta dalam barisan delegasi.
Kehadiran perwakilan dari Minahasa, Kotamobagu, hingga Bolaang Mongondow ini menunjukkan keterwakilan wilayah yang komprehensif.
Djafar Wonggo menyatakan bahwa keterlibatan aktif Sulawesi Utara merupakan wujud tanggung jawab kolektif dalam menjaga keutuhan NKRI.
Ia menegaskan komitmen daerah untuk terus menggaungkan nilai-nilai toleransi dan harmoni sosial sebagaimana yang telah lama dipraktikkan di Bumi Nyiur Melambai.
“Kami membawa aspirasi daerah sekaligus komitmen untuk terus memperkuat peran LDII dalam menjaga harmoni sosial, moderasi beragama, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat,”
pungkas Djafar dengan penuh optimistis.
Munas X LDII tahun 2026 ini pada akhirnya menjadi panggung ujian bagi organisasi untuk membuktikan relevansinya.
Dengan format pertemuan hybrid, forum ini berupaya menjawab ekspektasi tinggi, baik dari warga LDII sendiri maupun dari pemerintah sebagai mitra pembangunan.
Garis besar yang ditarik dari pembukaan ini sangat jelas: organisasi keagamaan di masa depan wajib bertransformasi menjadi pemberi solusi.
Melalui perhelatan ini, LDII secara resmi memulai langkah untuk membuktikan bahwa dakwah kini tidak lagi hanya untuk didengar, tetapi untuk dikerjakan. (∗–talia)


















