GALANG | TribuneIndonesia.com — Kondisi Jalan Perintis Kemerdekaan di Kota Galang, Kabupaten Deli Serdang, kian mengerikan. Jalan lintasan utama yang setiap hari dilalui warga itu kini berubah bak kubangan binatang. Lubang menganga, lumpur mengaduk-aduk badan jalan, dan permukaannya hancur lebur tanpa sisa. Setiap hujan turun, jalan berubah menjadi adonan lumpur licin yang menjijikkan. Saat kemarau datang, debu dan abu-abu beterbangan seperti salju putih, menyelimuti rumah, warung, dan paru-paru warga.
Dampaknya bukan sekadar ketidaknyamanan. Warga mulai tumbang satu per satu. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan meningkat, terutama menyerang anak-anak di bawah umur. Debu tebal dari badan jalan yang kering dan rusak parah menjadi racun yang dihirup saban hari. Jalan yang seharusnya menjadi nadi ekonomi justru berubah menjadi sumber penyakit yang menggerogoti kesehatan masyarakat Kota Galang.
Ironisnya, ruas Jalan Perintis Kemerdekaan disebut sebagai jalan kewenangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Namun hingga kini, tak terlihat langkah tanggap darurat yang nyata. Warga merasa dibiarkan hidup di tengah bencana yang pelan-pelan membunuh. Kerusakan makin parah akibat lalu lintas truk bertonase besar yang melintas bebas, menggilas badan jalan yang rapuh hingga makin remuk-redam.
Juli, seorang aktivis perempuan sekaligus warga setempat, meluapkan kekecewaannya saat ditemui Sabtu (21/2/2026). Menurutnya, jalan yang dulu mulus kini hancur karena beban kendaraan berat yang tak terkendali. “Kami sudah pernah turun ke jalan, berdemo meminta pemerintah segera memperbaiki. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi. Jalan ini sudah hampir dua tahun dibiarkan rusak. Apa harus menunggu korban penyakit bertambah lagi baru ada tindakan?” ujarnya dengan nada geram.
Lebih memilukan, pemerintah setempat dinilai seolah menutup mata. Pemerintahan kecamatan dan kelurahan di Galang dituding tak tanggap, seakan kerusakan ini bukan urusan mereka. Warga mengaku berulang kali mengeluh, namun yang didapat hanya janji tanpa ujung.
Sementara itu, setiap hari mereka menghirup debu, terjebak lumpur, dan mempertaruhkan kesehatan anak-anaknya.
Masyarakat mendesak pemerintah provinsi segera turun tangan: hentikan truk bertonase berlebih, lakukan perbaikan darurat, dan tetapkan jadwal rehabilitasi permanen. Jalan Perintis Kemerdekaan bukan sekadar aspal yang hancur—ia telah berubah menjadi ancaman hidup bagi warga Kota Galang. Jika pembiaran terus berlanjut, kerusakan ini bukan lagi soal infrastruktur, melainkan soal nyawa.
Ilham Gondrong


















