SOMASI: Gerakan yang Terlupakan dalam Riwayat Politik Lokal

- Editor

Minggu, 11 Januari 2026 - 05:45

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Chaidir Toweren

TribuneIndonesia.com Dalam lintasan sejarah politik lokal, sering kali yang tercatat hanyalah nama para pemegang jabatan, tanggal pelantikan, dan deretan kebijakan yang lahir setelahnya. Jarang sekali sejarah memberi ruang yang layak bagi gerakan masyarakat sipil terutama yang bekerja senyap, damai, dan tanpa pamrih kekuasaan. Di Kota Langsa, sebuah peristiwa penting pernah terjadi, namun kini seolah terkubur oleh waktu dan hiruk-pikuk politik: lahirnya SOMASI, ( Solidaritas Masyarakat Sipil Kota Langsa).

Peristiwa itu bermula dari situasi yang mengambang dan melelahkan. Ketidakpastian pelantikan wali kota terpilih hasil Pilkada membuat publik Langsa berada pada fase jenuh yang akut. Rakyat menyaksikan tontonan politik yang tak kunjung berujung, sementara denyut pemerintahan berjalan pincang. Masa jabatan Penjabat (Pj) Wali Kota telah berakhir, namun wali kota definitif belum juga dilantik. Dalam kondisi demikian, kebijakan fiskal daerah ikut tertunda, program pembangunan tersendat, dan kepastian administrasi publik menjadi kabur.

Bagi masyarakat awam, situasi ini mungkin hanya terasa sebagai keterlambatan layanan atau lambannya program. Namun bagi tata kelola pemerintahan, kekosongan kepemimpinan definitif adalah persoalan serius. Anggaran tak dapat dieksekusi optimal, keputusan strategis tertahan, dan roda birokrasi kehilangan arah. Negara, dalam konteks lokal, seolah berjalan tanpa nakhoda.

Di tengah kebuntuan itulah SOMASI hadir. Ia bukan partai politik, bukan pula organisasi massa dengan agenda elektoral. SOMASI lahir dari kegelisahan warga, akademisi, aktivis, pemuda, tokoh masyarakat yang merasa bahwa demokrasi tak boleh berhenti pada bilik suara. Demokrasi harus dijaga, dikawal, dan bila perlu, diingatkan melalui cara-cara bermartabat.

SOMASI menguncang sejarah Kota Langsa bukan dengan kekerasan, melainkan dengan konsistensi. Tiga kali aksi demonstrasi damai digelar. Tidak ada pembakaran ban, tidak ada anarkisme, tidak pula ujaran kebencian. Yang ada hanyalah tuntutan sederhana namun fundamental: kepastian pelantikan wali kota terpilih agar pemerintahan berjalan normal dan hak-hak publik tidak terabaikan.

Puncaknya adalah pernyataan sikap yang tegas, rencana menduduki gedung wakil rakyat Kota Langsa sebagai simbol perlawanan sipil terhadap kebuntuan politik. Ancaman moral itu bukan ditujukan untuk mencederai institusi, melainkan untuk menggugah kesadaran bahwa kekuasaan sejatinya bekerja atas mandat rakyat. Dan sejarah mencatat, hanya dua hari setelah aksi tersebut, Aceh melalui Gubernur menetapkan jadwal pelantikan wali kota terpilih Kota Langsa.

Baca Juga:  Ditjen Keuda Kemendagri Hadirkan SIMPONI MBG SIPD Sukseskan Program Nasional Presiden

Apakah ini kebetulan? Ataukah tekanan publik yang terorganisir secara damai memang masih memiliki daya paksa dalam sistem demokrasi kita? Pertanyaan itu mungkin tak pernah terjawab secara resmi. Namun bagi mereka yang menyaksikan langsung denyut peristiwa tersebut, SOMASI adalah variabel penting yang tak bisa dihapus begitu saja dari narasi.

Ironisnya, waktu berjalan cepat. Setelah pelantikan terlaksana dan roda pemerintahan kembali berputar, SOMASI perlahan menghilang dari perbincangan publik. Para penggeraknya kembali ke kehidupan masing-masing. Tidak ada piagam penghargaan, tidak ada catatan resmi dalam dokumen negara, bahkan nyaris tak ada jejak dalam memori kolektif kota. SOMASI seolah menjadi gerakan yang terlupakan apakah oleh waktu, atau sengaja dilupakan oleh politik.

Di sinilah letak paradoks demokrasi kita. Gerakan masyarakat sipil sering kali dipuja saat dibutuhkan, namun dilupakan setelah tujuan tercapai. Padahal, tanpa tekanan publik yang sehat, kekuasaan berpotensi berjalan tanpa kontrol. SOMASI membuktikan bahwa masyarakat sipil bukan sekadar pelengkap demokrasi, melainkan pilar penopangnya.

Catatan tentang SOMASI seharusnya menjadi bagian dari sejarah lokal Kota Langsa bukan untuk mengultuskan individu atau kelompok, tetapi untuk menegaskan bahwa perubahan bisa lahir dari keberanian warga biasa. Bahwa dalam situasi ketidakpastian, rakyat tidak harus selalu menunggu elite politik menyelesaikan masalahnya sendiri. Ada ruang bagi solidaritas, ada jalan bagi gerakan damai.
Lebih jauh, kisah SOMASI adalah cermin bagi banyak daerah di Indonesia. Ketika proses politik berlarut-larut, ketika kepastian hukum dan pemerintahan terkatung-katung, masyarakat sipil sering menjadi benteng terakhir rasionalitas. Mereka mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki batas waktu, dan mandat rakyat tidak boleh disandera oleh kepentingan apa pun.

Kini, ketika kita menoleh ke belakang, SOMASI mungkin tak lagi terdengar gaungnya. Namun jejaknya tetap ada, tertulis dalam ingatan mereka yang pernah berdiri di jalan, menyuarakan tuntutan dengan damai, dan percaya bahwa demokrasi masih bisa diperjuangkan tanpa kekerasan. Sejarah tidak selalu ditulis oleh penguasa; kadang ia disusun oleh warga yang menolak diam.

Mengingat SOMASI berarti merawat ingatan kolektif tentang keberanian sipil. Dan bagi Kota Langsa, itu adalah bagian dari jati diri demokrasi yang patut dijaga agar kelak, ketika ketidakpastian kembali datang, rakyat tahu bahwa mereka pernah, dan selalu bisa, berdiri bersama.

Berita Terkait

PEMERINTAH KABUPATEN SIMEULUE GANDENG KEJAKSAAN NEGERI SIMEULUE
Kelangkaan Semen di Aceh, Pemerintah Jangan Biarkan Masyarakat Berjuang Sendiri
Demo Desa Mengarah ke Perusahaan?
Membanggakan! Tiga Putra Terbaik Aceh Singkil Lolos Akademi Militer 2026, Jadi Inspirasi Generasi Muda
Gelar Perkara Uji Bukti Sengketa Tanah
Anwar Fuadi A.Md Resmi Menjabat Geuchik Gampong Tualang Teungoh Periode 2026-2032
Kasus Dugaan JADUP Siperkas Kian Memanas! Warga Tuntut Transparansi, Ketua BPG Sampaikan Keterangan Soal Penyaluran Bantuan
Penemuan Kapal Asing di Perairan Simeulue Cut 13 ABK Diamankan, Penyelidikan Masih Berlanjut
Berita ini 240 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 23:50

Dua Tersangka diciduk membawa 10,6 Kilogram Sabu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:59

Meriahkan HUT ke-81 RI, Kodim 0111/Bireuen Gelar Turnamen Bola Voli Piala Dandim TA 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:33

Babinsa Posramil Peulimbang Komsos dengan Pelaku UMKM, Dukung Pengembangan Usaha Kelapa Kopra

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:54

Babinsa Koramil 03/Jeunieb Monitoring Harga dan Stok Pangan, Pastikan Ketersediaan Bahan Pokok Aman

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:46

Babinsa Posramil Simpang Mamplam Berikan Motivasi Belajar kepada Siswa SMAN 1 Simpang Mampla

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 05:35

Sambut HUT RI Ke-81, Kapolres Bireuen Imbau Masyarakat Pasang Bendera Merah Putih

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:38

Membanggakan! Tiga Putra Terbaik Aceh Singkil Lolos Akademi Militer 2026, Jadi Inspirasi Generasi Muda

Jumat, 31 Juli 2026 - 11:23

Terlilit Utang, Pria di Bitung Nekat Curi Proyektor Ratusan Juta Milik Pemkot

Berita Terbaru

Headline news

PEMERINTAH KABUPATEN SIMEULUE GANDENG KEJAKSAAN NEGERI SIMEULUE

Minggu, 2 Agu 2026 - 05:03