DELI SERDANG | TribuneIndonesia.com — Kejadian unik sekaligus menggelikan terjadi di sebuah kolam pemancingan di Deli Serdang. Seorang pria bernama Udin, yang sedang asyik memancing, mendadak “kejatuhan mimpi” setelah sebuah biji kolang-kaling kaleng jatuh tepat di atas kepalanya.
Bukan pingsan, Udin justru pulang ke rumah dengan mata berbinar seperti habis menemukan harta karun. Tanpa ikan, tanpa hasil pancingan, ia langsung menggulung senar, lalu bergegas pulang sambil membawa biji kolang-kaling kaleng yang menimpa kepalanya itu.
Setibanya di rumah, Udin langsung memanggil istrinya.
“Toloooong buatkan abang kopi sama makanan. Ada proyek besar yang harus kita bahas,” kata Udin penuh gaya seperti bos proyek miliaran rupiah.
Mendengar kata “proyek”, sang istri langsung curiga tapi penasaran. Sambil menyiapkan kopi, ia membayangkan jangan-jangan suaminya habis dapat modal dari investor atau minimal menang undian berhadiah panci.
Saat kopi dan makanan tersaji, istrinya pun bertanya dengan wajah serius,
“Apa rupanya proyek besar yang abang maksud?”
Udin pun mengeluarkan benda keramat itu. sebiji kolang-kaling kaleng.
“Ini kita tanam, nanti tumbuh besar, keluar air nira, kita buat gula merah, lalu kolang-kalingnya kita jual. Untung besar!” jelas Udin penuh keyakinan, seolah baru pulang dari seminar bisnis internasional.
Istrinya terdiam. Bukan karena kagum, tapi karena mencoba mencerna: bagaimana biji kolang-kaling dari kaleng bisa ditanam seperti bibit kelapa sawit.
Belum selesai berkhayal, Udin melanjutkan rencana besarnya.
“Nanti kalau duit sudah banyak, kita beli kambing. Biar makin kaya!”
Merasa proyek ini butuh tenaga kerja, Udin memanggil anaknya, Amat.
“Mat, nanti kau saja yang gembala kambing. Bapak sibuk urus bisnis kolang-kaling,” kata Udin dengan nada bos besar.
Amat yang masih labil secara ekonomi dan mental, menolak dengan jujur.
“Tak mau, Pak. Aku mau main aja.”
Mendengar penolakan itu, emosi Udin meledak seperti kompor gas bocor. Tanpa pikir panjang, ia menampar Amat sambil berteriak,
“Tak tahu diri kau! Bapak mau jadi orang kaya, kau malah nolak!”
Amat pun babak belur kena “investasi emosi” dari ayahnya.
Melihat kejadian itu, istri Udin langsung melerai sambil berkata dengan nada yang membuat seluruh logika Udin runtuh.
“Bang, kenapa pula abang pukul si Amat? Biji kolang-kaling itu saja belum ditanam!”
Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Udin terdiam. Otaknya yang sejak tadi penuh mimpi langsung reboot. Ia memandangi biji kolang-kaling kaleng itu, lalu menunduk.
Udin pun mengaku khilaf, memeluk anaknya, dan sejak hari itu sering termenung di teras rumah, sambil menatap kolam, seolah berharap ada lagi benda jatuh ke kepala yang kali ini benar-benar masuk akal.
Sebelum membangun kerajaan bisnis, pastikan dulu bibitnya bukan hasil jatuh dari langit.
Ilham Gondrong


















