Bitung | Tribuneindonesia com – Di tengah guncangan gempa bumi yang melanda wilayah Sulawesi Utara, jalinan sinergi antara awak media dan pihak berwajib tetap berjalan solid, Kamis (02/04/26).
Sebuah pertemuan silaturahmi digelar di area Lapas Kelas IIB Pinokalan, Kota Bitung, sebagai upaya memperkuat kemitraan strategis.
Terletak di Jalan J.P. Kalangi, Kelurahan Tewaan, Kecamatan Ranowulu, suasana santai menyelimuti dialog antara para pemburu berita dengan Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Pinokalan, Dody Naksabani, S.Sos.,M.M.
Namun, topik pembicaraan segera beralih pada kesiapsiagaan institusi tersebut menghadapi fenomena alam yang baru saja terjadi.
Dody Naksabani mengawali percakapan dengan membeberkan kondisi terkini di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan pascagempa.
Menurutnya, meski situasi darurat sempat mencuat, prosedur operasional tetap dijalankan dengan penuh ketelitian.
”Kami tetap melaksanakan apel seperti biasa pada sore hari ini (02/04), namun dengan langkah antisipatif yang lebih tinggi. Beberapa akses tidak dikunci penuh demi menjamin keselamatan jika terjadi guncangan susulan,”
ujar Dody dengan nada tenang.
Pucuk pimpinan Lapas tersebut menegaskan bahwa prinsip utama dalam menghadapi bencana adalah keseimbangan antara keselamatan jiwa dan ketertiban.
Keamanan internal menjadi prioritas agar tidak ada celah bagi munculnya insiden yang tidak diinginkan di tengah kepanikan.
Lebih lanjut, Dody menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mencegah terjadinya gangguan keamanan maupun insiden khusus lainnya.
Baginya, mitigasi bencana di lingkungan Lapas memerlukan penanganan yang jauh lebih spesifik dibandingkan area publik lainnya.
Pendekatan humanis menjadi instrumen utama yang digunakan Dody dalam menenangkan warga binaan.
Selain memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, pihak Lapas fokus menjaga stabilitas emosional para penghuni agar tetap tenang pascabencana.
”Kami memahami adanya kekhawatiran terkait isu tsunami. Oleh karena itu, kami memberikan ruang komunikasi bagi warga binaan dengan keluarga mereka untuk saling memberi kabar,”
tambah Dody menjelaskan langkah empatinya.
Senada, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP), Rolando F. V. Buntuang, turut menekankan pentingnya pengendalian situasi secara menyeluruh. Ia menilai bahwa kendali terhadap personel dan warga binaan adalah kunci utama dalam manajemen krisis.
Rolando menegaskan bahwa kepanikan massa seringkali menjadi celah terjadinya gangguan keamanan. Untuk itu, kesiapsiagaan personel dalam mengarahkan warga binaan ke titik aman menjadi prosedur yang tidak bisa ditawar lagi.
Tak hanya soal pengamanan fisik, Lapas Kelas IIB Bitung rupanya telah membekali warga binaan dengan edukasi mitigasi bencana secara berkelanjutan.
Mereka diberikan pemahaman mendalam mengenai prosedur evakuasi dan pengenalan titik aman di dalam area Lapas.
Di sisi lain, Lapas ini juga tetap konsisten menjalankan program pembinaan kemandirian. Berbagai keterampilan mulai dari mekanik sepeda motor, perawatan AC, hingga teknik konstruksi terus diasah agar warga binaan memiliki bekal yang mumpuni saat kembali ke masyarakat.
Menariknya, sekitar 15 warga binaan kini telah mengantongi sertifikasi halal, sebuah pencapaian yang diharapkan dapat membuka peluang kerja bagi mereka kelak.
Pihak Lapas pun secara terbuka mengajak pelaku usaha untuk berkolaborasi dalam menyerap tenaga kerja terampil dari balik jeruji besi ini. (Kiti)



















