Aceh Tamiang | TribuneIndonesia.com
Memasuki akhir bulan kedua pascabanjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, berbagai elemen masyarakat terus bergerak memperkuat upaya pemulihan, khususnya di sektor kesehatan. Relawan Rumoh Silaturahmi Aceh (RSA) kembali turun ke lapangan dengan menggandeng PEPABRI, BATARA, dan PENA PUJAKESUNA untuk menghadirkan pelayanan kesehatan tahap kedua sekaligus program “Khitanan Berkah” bagi masyarakat terdampak bencana.
Kolaborasi lintas elemen ini mengusung semangat “Aceh Kembali Sehat”, sebuah ikhtiar bersama untuk memastikan hak dasar masyarakat, terutama layanan kesehatan, tetap terpenuhi di tengah situasi pascabencana. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, yang menjadi salah satu wilayah terdampak banjir.

Pembina RSA, dr. Sa’id Syahrizal HA, M.M (Kes) dari Banda Aceh, turun langsung ke lokasi untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal. Kehadiran relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga medis, tokoh masyarakat, hingga unsur organisasi sosial, menjadi dorongan moral bagi warga yang tengah berupaya bangkit, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.
Dalam kegiatan ini, Relawan RSA berkolaborasi dengan PEPABRI yang diwakili Purnawirawan TNI Zulsyafri, BATARA yang diwakili Purnawirawan Polri Teuku Hasbi, serta PENA PUJAKESUNA yang diwakili Ns. Rio Prasetio, S.Kep. Kegiatan juga didampingi Ketua RSA Kabupaten Aceh Tamiang, Samsul Bahri, serta melibatkan sejumlah tokoh lokal, di antaranya Kepala SMP Negeri 1 Manyak Payed Helmi, S.Pd., Pj Datok Alfad, S.Sos., Tgk Imum Hasan, S.H.I., Babinsa Serka Hendra, dan unsur masyarakat setempat.
Sebagai langkah konkret, relawan mendirikan posko kesehatan terpadu yang difungsikan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar, pemeriksaan medis, pemberian obat-obatan, serta edukasi kesehatan bagi warga terdampak banjir. Selain itu, program “Khitanan Berkah” dan pengobatan gratis menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kemanusiaan yang disambut antusias oleh masyarakat.
Tim kesehatan RSA juga memberikan penyuluhan mengenai risiko penyakit pascabencana, seperti penyakit kulit, diare, infeksi saluran pernapasan, batuk, dan pilek. Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan di lingkungan yang masih rentan akibat dampak banjir.
Respons masyarakat terhadap program tersebut terbilang sangat positif. Warga mengaku terbantu dengan kehadiran posko kesehatan dan layanan sosial yang diberikan relawan. Mereka menilai program ini tidak hanya meringankan beban kesehatan, tetapi juga menghadirkan harapan di tengah proses pemulihan pascabencana.
Pj Datok Alfad, S.Sos., berharap kolaborasi lintas elemen ini dapat terus berlanjut sehingga kondisi kesehatan masyarakat Aceh Tamiang segera pulih secara menyeluruh. Menurutnya, sinergi antara relawan, organisasi sosial, dan unsur masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Kolaborasi antara Relawan RSA, PEPABRI, BATARA, dan PENA PUJAKESUNA ini dinilai sebagai contoh nyata sinergitas lintas elemen dalam menghadapi bencana. Kehadiran relawan tidak hanya memperkuat respons kemanusiaan, tetapi juga menegaskan pentingnya peran masyarakat sipil dalam memastikan layanan kesehatan tetap berjalan di tengah situasi darurat.












