Bitung, Sulut | TribuneIndonesia.com
Langkah konkret menuju pengelolaan pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan kembali diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung, Rabu (28/01/26).
Pertemuan ini mempertemukan pemangku kepentingan strategis, mulai dari Bappenas, Direktorat KAPI DJPT, hingga otoritas lokal seperti KSOP Kelas II Bitung dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.
Kehadiran komunitas lingkungan Divers Clean Action dan Bank Sampah Promirah mempertegas urgensi kolaborasi dalam menangani persoalan limbah di sektor kelautan.
Diskusi intensif ini difokuskan pada penanganan sampah alat penangkapan ikan yang tertinggal, hilang, atau dibuang di laut, yang secara teknis dikenal sebagai Abandoned, Lost or Discarded Fishing Gear (ALDFG).
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dampak jangka panjangnya terhadap ekosistem laut dan keselamatan navigasi.
Dalam agenda tersebut, para nelayan serta pengurus kapal perikanan turut dilibatkan secara aktif guna memetakan sebaran dan volume sampah alat tangkap yang selama ini kerap terabaikan di dasar laut.
Target utama dari pertemuan ini adalah identifikasi mendalam terhadap karakteristik ALDFG guna merancang sebuah pilot project yang komprehensif.
Data yang terkumpul nantinya akan dijadikan landasan dalam menyusun mekanisme pengelolaan sampah alat tangkap yang efektif dan berkelanjutan.
Proyek percontohan ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi, mulai dari penarikan sampah dari laut hingga proses daur ulang di darat.
Upaya ini merupakan bagian dari transformasi besar PPS Bitung dalam mewujudkan konsep Eco Fishing Port.
Dengan meminimalisir keberadaan sampah plastik dan alat tangkap di wilayah perairan, pelabuhan ini diharapkan tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga menjadi pionir dalam keberlanjutan lingkungan.
Implementasi kebijakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor perikanan nasional mulai bergeser ke arah praktik yang lebih hijau dan bertanggung jawab terhadap kelestarian samudera. (Kiti)














