Bener Meriah | TribuneIndonesia.com
Kinerja Direktur RSUD Muyang Kute kembali menjadi sorotan tajam publik. Masyarakat menilai kepemimpinan yang sudah berjalan cukup lama itu gagal membawa perubahan dan justru menyisakan berbagai persoalan internal yang kian meruncing.
Kondisi ini menjadi indikasi serius bahwa manajemen rumah sakit dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pelayanan kesehatan pun terdampak, dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit menurun drastis. Ditambahnya hengkangmya dokters spesialis dan di pindahkannya tengah medis yang kompeten ke luar RSUD.
Sorotan publik kian tajam setelah mencuatnya dugaan kasus mark up pengadaan alat operasi yang kini tengah ditangani oleh Kejaksaan Negeri Bener Meriah. Kasus ini menambah daftar panjang catatan buruk di bawah kepemimpinan direktur saat ini, sekaligus menunjukkan bahwa tata kelola keuangan dan pengadaan di rumah sakit tersebut patut dipertanyakan.
Tak hanya itu, fakta paling mencolok dan memalukan adalah turunnya status RSUD Muyang Kute dari tipe C menjadi tipe D. Kejadian ini menjadi preseden buruk yang mencerminkan kegagalan total dalam mempertahankan mutu pelayanan dan standar operasional rumah sakit. Turunnya status ini dinilai masyarakat sebagai bukti nyata bahwa pihak manajemen tidak melakukan persiapan dan evaluasi secara serius.
“Ini sangat memalukan. Sebuah rumah sakit milik pemerintah tingkat kabupaten yang statusnya sama dengan puskesmas. Jelas ini menunjukkan kegagalan manajemen yang tidak bisa ditawar-tawar lagi,” ujar seorang warga Bener Meriah yang enggan disebutkan namanya.
Ironisnya, di tengah berbagai persoalan ini, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah justru terkesan menutup mata. Alih-alih melakukan evaluasi dan perombakan manajemen, muncul wacana mempertahankan sang direktur untuk kembali menduduki posisi puncak di rumah sakit tersebut. Hal ini menimbulkan kesan buruk terhadap komitmen pemerintah daerah dalam memperbaiki pelayanan publik.
Sejumlah kalangan menilai, masih banyak dokter dan profesional kesehatan yang layak dan mampu mengelola RSUD Muyang Kute ke arah yang lebih baik. Publik juga percaya bahwa perbaikan manajemen hanya bisa dilakukan jika terjadi pergantian kepemimpinan.
“Sudah terlalu lama jabatan ini dipegang oleh orang yang sama. Tidak ada penyegaran, tidak ada pembaruan. Ini saatnya diganti. Demi kemajuan rumah sakit dan kesehatan masyarakat Bener Meriah,” ujar seorang pemerhati kebijakan kesehatan daerah.
Masyarakat berharap agar Pemerintah Kabupaten Bener Meriah segera mengambil langkah konkret dan berani untuk melakukan reformasi di tubuh RSUD Muyang Kute. Jika tidak, maka bukan tidak mungkin rumah sakit tersebut akan terus terpuruk dan kehilangan fungsinya sebagai pusat layanan kesehatan rujukan. (Ct075)