Aceh Tamiang | TribuneIndonesia.com — Truk tangki air bersih Palang Merah Indonesia (PMI) berhenti di tepi permukiman warga Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed,
Kabupaten Aceh Tamiang. Di bawah terik matahari, warga berbondong-bondong membawa jeriken, ember, dan galon. Air bersih yang mereka tunggu akhirnya tiba di tengah keterbatasan pascabanjir bandang yang melanda wilayah itu.
Distribusi air bersih tersebut merupakan hasil sinergi PMI, PENA PUJAKESUMA, dan Relawan Rumah Silaturahmi Aceh (RSA). Ketiga elemen kemanusiaan itu bekerja bersama untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak bencana tetap terpenuhi, terutama akses air bersih yang menjadi kebutuhan paling mendesak.
Ketua Relawan PMI Kabupaten Aceh Tamiang, Muslem, mengatakan bahwa pendistribusian air bersih dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah terdampak banjir. Selain Desa Tualang Baro, distribusi juga menyasar beberapa kecamatan lain yang mengalami kerusakan fasilitas air bersih.
“Hingga saat ini PMI bersama PENA PUJAKESUMA dan RSA terus bekerja sama mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di beberapa kecamatan di Aceh Tamiang,” kata Muslem, Selasa.
Menurut Muslem, secara umum sebagian besar permukiman warga telah mulai mendapatkan akses air bersih. Namun, masih ada sejumlah titik yang belum terjangkau secara optimal akibat kondisi medan dan keterbatasan sarana distribusi.
“Sebagian besar desa sudah mendapatkan akses air bersih. Namun, beberapa permukiman lainnya masih menunggu tahap pengiriman berikutnya. Kami akan melanjutkan pendistribusian sesuai kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memutus akses air bersih. Sumur warga tercemar lumpur, jaringan pipa rusak, dan sumber air alami tertutup material banjir. Kondisi itu membuat warga sangat bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari relawan dan lembaga kemanusiaan.
Muslem menambahkan bahwa upaya PMI di daerah bencana tidak terbatas pada pelayanan medis. Ketua Umum PMI Pusat, Jusuf Kalla, telah menginstruksikan agar penanganan dampak bencana dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kebutuhan masyarakat.
“Ketua Umum PMI Pusat, Bapak Jusuf Kalla, menginstruksikan agar penanganan dampak bencana tidak hanya menyasar pelayanan medis, tetapi juga pembersihan lingkungan, rumah, fasilitas publik, serta distribusi air bersih,” kata Muslem.
Menurut dia, Jusuf Kalla juga meminta jajaran PMI di daerah bencana untuk membantu pemerintah daerah mempercepat proses pemulihan sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tujuannya agar masyarakat dapat menjalani ibadah dengan rasa aman dan nyaman meski masih berada dalam masa pemulihan.
“Harapannya, masyarakat tetap merasa tenang dan memiliki akses terhadap kebutuhan dasar meskipun proses pemulihan belum sepenuhnya selesai,” ujar Muslem.
Ketua PENA PUJAKESUMA, Purnawirawan TNI Zulsyafri, mengatakan bahwa keterlibatan organisasinya dalam distribusi air bersih merupakan bentuk solidaritas sosial terhadap warga terdampak bencana. Ia menilai bahwa kerja sama lintas organisasi menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat.
“Kami bersama PMI dan RSA terus berkolaborasi untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Ini bukan hanya tugas satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama,” kata Zulsyafri.
Hal senada disampaikan Ketua Relawan RSA Kabupaten Aceh Tamiang, Samsul Bahri. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antarrelawan dan lembaga kemanusiaan harus terus diperkuat agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan merata.
“Kami sepakat untuk terus bahu membahu bersama PMI dan PENA PUJAKESUMA. Tujuannya satu: membantu masyarakat terdampak agar kehidupan di Aceh Tamiang kembali normal dan kondusif,” ujar Samsul Bahri.
Di lapangan, distribusi air bersih bukan sekadar kegiatan teknis. Ia menjadi ruang pertemuan antara relawan dan warga, antara bantuan dan harapan. Warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air bersih kini bisa kembali memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga mencuci.
Namun, bagi sebagian warga, bantuan air bersih hanyalah solusi sementara. Kerusakan infrastruktur air bersih yang cukup parah membuat mereka masih menghadapi ketidakpastian tentang kapan akses air normal dapat kembali pulih sepenuhnya.
Pemerintah daerah Aceh Tamiang mengakui bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Distribusi air bersih oleh PMI, PENA PUJAKESUMA, dan RSA dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga ketahanan sosial masyarakat selama masa transisi.
Sinergi antara lembaga kemanusiaan, relawan, dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Bencana tidak hanya menuntut respons cepat, tetapi juga kerja sama yang konsisten dan berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan, kolaborasi PMI, PENA PUJAKESUMA, dan RSA menjadi contoh bagaimana solidaritas sosial bekerja dalam praktik. Air bersih yang mengalir dari truk tangki ke jeriken warga bukan sekadar bantuan, melainkan simbol kehadiran negara dan masyarakat dalam menghadapi krisis.
Bagi warga Tualang Baro dan sejumlah desa lain di Aceh Tamiang, bantuan air bersih itu menjadi penanda bahwa mereka tidak sendirian. Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya hilang dan rumah yang belum sepenuhnya pulih, harapan perlahan kembali tumbuh setetes demi setetes, dari air yang dibagikan para relawan.



















