Bitung | Tribuneindonesia.com – Keluarga besar Moputi Arsyad menggelar peringatan hari ketujuh wafatnya Almarhumah Indrawaty Arsyad pada Selasa (06/10/26).
Peringatan yang berlangsung penuh khidmat ini bertempat di Lingkungan 4 RT 13 Lorong Masjid Al-Jauhar, Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa, Kota Bitung.
Suami almarhumah, Lukman, mengundang secara resmi para jurnalis serta warga sekitar untuk menghadiri majelis takziah tersebut. Kehadiran awak media dan para tamu undangan menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.
Pihak keluarga memanjatkan doa bersama dalam undangan resmi yang terbit sebelum acara. Mereka memohon rahmat dan keridaan Allah SWT untuk mengiringi almarhumah Indrawaty Arsyad yang telah berpulang ke rahmatullah.
Rangkaian acara peringatan dimulai tepat selepas salat Asar atau sekitar pukul 15.30 WITA hingga selesai. Para pelayat tampak memadati lokasi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok istri, mama, oma, dan saudari tercinta tersebut.
Dalam lembaran undangan, keluarga menyisipkan sebuah kutipan hadis riwayat Muslim nomor 1631 yang sangat mendalam. Hadis tersebut mengingatkan bahwa amalan manusia terputus saat meninggal dunia, kecuali sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.
Ketua Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Kota Bitung, Yaskur Gobel, menyampaikan sambutan hangat dalam pembukaan acara. Ia menyambut penceramah utama yang juga menjabat sebagai Kepala MTs Negeri 1 Bitung, Ustadz Drs. H. Sudarto Katijo, M.P.I.
Ustadz Sudarto Katijo membuka ceramahnya dengan memberikan gambaran serta penguatan spiritual bagi keluarga yang tertimpa musibah. Ia memaparkan ada tujuh manfaat bagi orang yang sabar menghadapi musibah, salah satunya memperoleh kemudahan langsung dari Allah SWT.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat daerah turut menghadiri acara peringatan tersebut, termasuk anggota DPRD Kota Bitung, Syampanai. Ustadz Sudarto Katijo menyapa dan menyambut hangat seluruh tamu undangan yang hadir menyatukan doa.
Penceramah menerangkan keutamaan mengamalkan fardu kifayah bagi umat Islam yang ditinggalkan. Ia menekankan perintah Rasulullah SAW untuk senantiasa mendoakan orang yang telah meninggal dunia serta menyedekahkan sebagian harta atas nama almarhumah.
Tak hanya itu, Ustadzh, menegaskan bahwa sedekah atas nama almarhumah tidak akan mengurangi pahala bagi orang yang memberikannya. Amalan tersebut justru mengalirkan pahala kebaikan, baik untuk almarhumah maupun bagi pihak keluarga yang bersedekah.
Ustadz Sudarto Katijo mengingatkan jemaah untuk tidak membuka atau menyebarkan aib orang yang telah meninggal dunia. Allah SWT telah menutup rapat seluruh cela almarhumah semasa hidupnya, sehingga umat wajib menjaganya.
Ia menambahkan peringatan keras bahwa barang siapa yang sengaja mengangkat atau membicarakan aib almarhumah, maka keburukan dan dosa ghibah tersebut akan membalik serta menimpa orang yang menggunjingnya.
Penceramah juga membeberkan fakta spiritual bahwa sebanyak 70 ribu malaikat hadir melingkupi rumah duka orang yang meninggal dunia. Kehadiran para malaikat tersebut membawa rahmat dan mengaminkan doa-doa kebaikan dari para pelayat.
Terkait persoalan maut, ia menegaskan bahwa ajal merupakan rahasia mutlak milik Allah SWT tanpa ada satu pun makhluk yang mengetahuinya. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jemaah untuk menyiapkan bekal amalan sebelum ajal menjemput.
Selain itu, Katijoh menjelaskan kondisi manusia ketika memasuki alam barzakh. Allah SWT akan menyempurnakan setiap balasan amalan manusia; amalan baik akan mendapatkan balasan kebaikan sempurna, begitu pula sebaliknya dengan amalan buruk.
Ustadzh Sudarto Katijo mengutip makna dari Surah At-Taghabun dalam tausiahnya. Surah tersebut menegaskan bahwa setiap manusia pasti menerima pembalasan yang adil dari Allah SWT berdasarkan amalan yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan hari pembalasan hanya diyakini secara sungguh-sungguh oleh orang-orang yang beriman. Keyakinan akan datangnya hari penghakiman mendorong umat beriman untuk terus memperbanyak amal saleh di dunia fana.
Lebih lanjut, ia kembali mengingatkan bahwa amalan yang terus mengalir sampai alam barzakh adalah doa anak yang saleh dan amal jariyah. Islam tidak mengenal dosa waris, melainkan menjanjikan pahala berkelanjutan atas setiap kebaikan.
Ustadz Sudarto Katijo mengutip Q.S. An-Nisa ayat 69 yang menjelaskan kedudukan orang-orang beriman di akhirat. Mereka akan dihimpun bersama orang-orang yang melimpah nikmat Allah, mulai dari para nabi, para wali, hingga hamba-hamba yang saleh, sebelum menutup ceramahnya dengan doa bersama.
Tempat yang sama, mewakili pemerintah setempat, Kepala Lingkungan Mono Arfah memanjatkan puji syukur serta menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhumah Indrawaty Arsyad.
Ia mengimbau seluruh warga untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) demi kenyamanan Kota Bitung. (kiti)














