Korban Banjir dan Tanah Longsor di Bireuen Baru Tahu Kalau Huntara dan Huntap Hak Mereka

- Editor

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tek Foto : Mutia, salah seorang warga terdampak banjir dan tanah longsor di Desa Juli Teupin Mane, Kecamatan Juli, Bireuen, Aceh. FOTO/FERIZAL HASAN

 

BIREUEN/Tribuneindonesia.com

Kebingungan menyelimuti warga Gampong Juli Teupin Mane, Kecamatan Juli, Bireuen, terkait rencana pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi korban terdampak banjir dan tanah longsor.

Mereka mengaku tidak memahami perbedaan dua skema tersebut dan khawatir kehilangan hak atas rumah permanen jika menerima huntara.

“Kami butuh huntara,” kata Mutia, perwakilan korban banjir saat menghadiri kegiatan buka puasa bersama sekaligus reses dan penyerapan aspirasi anggota DPR RI H Ruslan M Daud yang disapa HRD di meunasah desa setempat, Sabtu (28/6/2026).

“Kami pikir setelah dapat huntara, kami tidak dapat lagi huntap, sekarang kami baru tahu kalau huntara dan huntap hak kami korban bencana,” ujar Mutia di hadapan HRD, perangakat desa dan ratusan warga yang ikut buka puasa bersama di meunasah desa setempat.

Dikatakan Mutia, Pemerintah Kabupaten Bireuen tidak mengusulkan pembangunan hunian sementara (Huntara). Alasannya, sebagian penyintas disebut lebih memilih menerima Dana Tunggu Hunian (DTH).

Menurut Mutia, sebagian besar masyarakat tidak memahami apa yang dimaksud dengan huntara maupun huntap. Minimnya sosialisasi dari pemerintah membuat warga berasumsi bahwa penerimaan hunian sementara akan menggugurkan hak mereka atas hunian tetap yang bersifat permanen dan menjadi milik pribadi.

“Kebutuhan utama warga adalah rumah tetap agar memiliki kepastian tempat tinggal. Namun ketidakjelasan informasi membuat warga diliputi kekhawatiran. Sehingga kami korban banjir dan tanah longsor kalang kabut,” ujar Mutia, sambil menangis.

Baca Juga:  Mengungkap Jejak Penghianatan Klan Ba'Alwi Terhadap Indonesia

Ia menceritakan kondisi ayahnya yang berusia sekitar 70-an tahun. Sejak rumah mereka terdampak banjir, sang ayah harus berpindah-pindah tempat, dari lokasi pengungsian ke tempat lain, termasuk mengungsi ke Desa tetangga.

Setiap hari, kata Mutia, ayahnya bolak-balik ke desa untuk mencari informasi kapan rumah akan dibangun pemerintah.

“Orang tua ingin hidup tenang. Tapi karena tidak punya tempat tinggal, ayah saya mondar-mandir. Hari ini ayah saya masuk rumah sakit,” katanya sedih.

Mutia menyebutkan, warga sudah berulang kali menanyakan kepastian pembangunan hunian kepada aparatur desa dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun hingga kini belum ada jawaban pasti mengenai waktu pembangunannya. “Survey terus dilakukan berulang kali, tapi kapan dibangun rumah yang layak untuk kami tidak ada kejelasan,” sebutnya.

Ketidakpastian itu membuat warga berada dalam situasi dilematis. Disatu sisi mereka membutuhkan tempat tinggal sementara untuk segera dihuni. Disisi lain, mereka menginginkan jaminan bahwa pembangunan hunian layak segera direalisasikan.

Saat Mutia menanyakan kepada ratusan warga yang hadir apakah mereka setuju diusulkan pembangunan huntara, warga menjawab serempak, “Setuju.” Namun, ia menegaskan, persetujuan itu lahir di tengah ketidaktahuan informasi yang sebenarnya terkait hak-hak korban bencana.

“Kami tidak paham apa itu huntara, apa itu huntap. Tidak pernah diberikan pemahaman secara jelas,” pungkas Mutia. (*)

Berita Terkait

Pungkas Sang Rahbar di Ujung Mesiu
HRD Bagi-Bagi Sembako, Buka Puasa Bersama dan Sumbang Rp 50 Juta untuk Desa Juli Teupin Mane
​Laga Rudal di Langit Timur Tengah
Diduga Korupsi 37,1 Kalangan RSUD.H.Sahuddin Kutacane Sempat Kelangkaan Obat.
Semangat Berbagi di Bulan Suci: Kejari Bitung Gelar Aksi Sosial dan Buka Puasa Bersama
HRD : Pasar Rakyat Peureulak Aceh Timur Segera Direnovasi
Warga Binaan Rutan Kelas I Medan Buka Puasa Bersama Keluarga, 1.543 Orang Ikuti Safari Ramadhan
Jasa Raharja DKI Jakarta Gelar Safety Campaign di Daerah Titik Rawan Cilincing Jakarta Utara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:09

Dansatgas TMMD Ke-127 Kodim 0111/Bireueb Tinjau Pembangunan Sumur Bor di Balai Pengajian Bustanul Falah Assamdiah Desa Jeumpa Sikureng.

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:06

Grader Dikerahkan, TMMD Wujudkan Jalan Layak Bagi Warga.

Minggu, 1 Maret 2026 - 01:22

Polsek Blahbatuh Sukses Amankan Event Lari MS Glow

Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:00

Kapolsek Medan Timur Turun ke Jalan Bagi Takjil di Hari ke 10 Ramadan

Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:42

Kapolrestabes Medan Turun ke Kutalimbaru, Tegaskan Polri Hadir untuk Rakyat.Solid, Humanis, Tanpa Pungli

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:35

TMMD Ke-127 Gelar Penyuluhan Kesehatan dan Keluarga Berencana, Wujudkan Keluarga Sehat dan Sejahtera

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:34

Perkuat Sinergi di Lapangan, Satgas TMMD Laksanakan Komsos Bersama Petani di Jeumpa Sikureng.

Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:28

Rehab RTLH TMMD Capai Tahap Krusial, Rumah Anwar M. Saleh Masuki Pemasangan Dinding dan Pengecoran Lantai.

Berita Terbaru

Sosial

Pungkas Sang Rahbar di Ujung Mesiu

Minggu, 1 Mar 2026 - 07:33

TNI dan Polri

Grader Dikerahkan, TMMD Wujudkan Jalan Layak Bagi Warga.

Minggu, 1 Mar 2026 - 05:06