RAJA AMPAT-TRIBUNEINDONESIA.COM — Ketiadaan kepastian mengenai pelayanan dokter spesialis anak di RSUD Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kembali menjadi perhatian masyarakat.
Ferdinan Dimara, salah seorang warga Raja Ampat, menyampaikan keprihatinannya terkait informasi simpang siur mengenai keberadaan dr. Laura, dokter spesialis anak yang selama ini dikenal memberikan pelayanan kesehatan bagi anak-anak di Raja Ampat.
Ferdinan mengatakan, beberapa bulan lalu dirinya telah menyampaikan harapan di sebuah grup masyarakat agar RSUD Waisai memiliki fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang memadai untuk melayani seluruh masyarakat Raja Ampat.
Menurutnya, keberadaan dokter spesialis anak sangat penting, mengingat anak-anak membutuhkan penanganan medis yang tepat ketika mengalami sakit maupun keluhan kesehatan.
Ia mengaku mengenal pelayanan dr. Laura melalui pengalaman ketika anaknya mendapatkan penanganan kesehatan. Menurut Ferdinan, dokter tersebut memberikan respons cepat saat anaknya mengalami keluhan kesehatan.
“Perlu diketahui, tidak semua dokter atau tenaga medis bersedia mengabdi di Papua. Ada persepsi di luar sana bahwa Papua merupakan zona merah atau daerah konflik. Padahal, kondisi setiap wilayah berbeda-beda,” ungkap Ferdinan dalam tanggapannya.
Ia menilai, persepsi tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi tenaga medis yang hendak mengabdi di Papua. Karena itu, menurutnya, keberadaan dokter spesialis yang bersedia melayani masyarakat daerah perlu mendapat perhatian.
Ferdinan juga menyinggung unggahan di salah satu akun Facebook yang menyebutkan seorang anak telah menjalani perawatan di RSUD Waisai selama kurang lebih tiga hari tanpa penanganan dokter spesialis anak.
Informasi tersebut, menurutnya, menambah kekhawatiran orang tua mengenai kepastian pelayanan kesehatan anak di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Meski demikian, informasi mengenai kondisi pasien dan ketersediaan dokter yang bertugas masih perlu dikonfirmasi kepada pihak RSUD Waisai agar persoalan ini dapat diketahui secara utuh.
Ferdinan berharap persoalan yang berkaitan dengan keberadaan dr. Laura dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak terkait. Ia juga meminta agar persoalan administratif maupun hal lain yang masih dapat diselesaikan tidak sampai berdampak pada pelayanan kesehatan anak-anak.
“Harapan kami sebagai masyarakat dan orang tua, jangan sampai karena adanya kepentingan atau persoalan tertentu yang sebenarnya bisa diselesaikan, anak-anak kami justru menjadi korban karena kehilangan sosok dokter spesialis anak yang selama ini melayani mereka,” ujarnya.
Ia menegaskan, harapannya terhadap keberadaan dr. Laura didasarkan pada pengalaman pelayanan yang diterima keluarganya, bukan karena hubungan pribadi yang dekat.
“Kami tidak mengenal dr. Laura begitu dekat. Kami hanya mengenal beliau melalui pelayanan yang diberikan, terutama ketika anak kami mengalami keluhan kesehatan dan mendapatkan respons cepat serta penanganan yang baik,” tutup Ferdinan
Ferdinan berharap Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dan manajemen RSUD Waisai memberikan penjelasan mengenai kepastian pelayanan dokter spesialis anak, sehingga masyarakat, khususnya para orang tua, tidak terus dibayangi ketidakpastian ketika membutuhkan layanan kesehatan bagi anak-anak mereka.












