Arizal Mahdi; Krisis Sosial-Ekonomi Aceh Kian Kompleks, Pemerintah Dinilai Gagal Hadir dan Tidak Transparan

- Editor

Sabtu, 7 Februari 2026 - 03:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDA ACEH/Tribuneindonesia.com

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menyampaikan peringatan keras kepada Pemerintah Aceh terkait semakin kompleks dan terstrukturnya krisis sosial-ekonomi yang kini menjerat masyarakat Aceh. Ia menilai persoalan pengangguran, eksodus pemuda, kemiskinan yang berkepanjangan, meningkatnya angka perceraian, kriminalitas, hingga lemahnya transparansi anggaran telah membentuk krisis multidimensi yang mengancam martabat, stabilitas sosial, dan masa depan generasi Aceh.

Menurut Arizal, Aceh tidak kekurangan sumber daya alam maupun fiskal, tetapi menghadapi kegagalan serius dalam tata kelola pembangunan, arah kebijakan, serta keberpihakan negara terhadap kebutuhan dasar rakyat.

Ketika rakyat kehilangan pekerjaan, keluarga runtuh oleh tekanan ekonomi. Perceraian meningkat, kriminalitas dan pencurian menjadi jalan bertahan hidup, dan kemiskinan terus menjerat. Kondisi ini, kata Arizal, bukan sekadar angka statistik, melainkan penderitaan manusia yang nyata dirasakan masyarakat.

Ia menyoroti fenomena masifnya pemuda dan pemudi Aceh yang meninggalkan kampung halaman, baik ke kota-kota besar maupun ke luar negeri, sebagai indikator nyata absennya negara dalam menyediakan pekerjaan yang layak dan bermartabat di tanah sendiri.

Aceh, menurutnya, perlahan berubah menjadi daerah yang ditinggalkan generasinya. Padahal, daerah yang sehat seharusnya menjadi tempat orang pulang untuk membangun, bukan tempat yang ditinggalkan demi bertahan hidup.

Data Statistik Memperkuat Alarm Sosial

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, tingkat pengangguran terbuka di Aceh masih berada pada kisaran 5,5–5,6 persen, dengan sekitar 140 ribu penduduk usia kerja belum terserap lapangan pekerjaan. Lebih dari 60 persen tenaga kerja Aceh masih berada di sektor informal, tanpa jaminan pendapatan yang layak maupun perlindungan sosial yang memadai.

Di sisi lain, meskipun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap sekitar 38 persen tenaga kerja, sektor ini masih didominasi aktivitas hulu tanpa dukungan industri hilirisasi yang kuat. Akibatnya, nilai tambah ekonomi, peluang kerja berkualitas, dan kesejahteraan masyarakat justru tidak tumbuh di Aceh, melainkan dinikmati oleh daerah dan negara lain.

Baca Juga:  ​Sinergi Pusat-Daerah, Pemkot Bitung Hadiri Persiapan Rakornas 2026

Dana Besar, Dampak Sosial Minim

Arizal juga menyinggung besarnya alokasi dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh yang telah digelontorkan selama bertahun-tahun, namun dinilai tidak berbanding lurus dengan perbaikan kesejahteraan rakyat secara nyata.

Aceh menerima dana besar, tetapi rakyat tetap miskin. Menurut Arizal, hal ini bukan hanya persoalan teknis, melainkan pertanyaan moral dan politik mengenai arah kebijakan serta manfaat nyata anggaran bagi masyarakat.

Ia menilai kondisi tersebut semakin diperparah oleh minimnya transparansi Pemerintah Aceh dalam pengelolaan anggaran, yang berdampak langsung pada melemahnya kepercayaan publik dan tertutupnya ruang pengawasan masyarakat.

Tanpa transparansi anggaran, kata Arizal, tidak akan ada keadilan pembangunan. Rakyat berhak mengetahui ke mana uang mereka digunakan dan mengapa penderitaan sosial terus berulang dari tahun ke tahun.

Hilirisasi dan Sektor Pangan Modern sebagai Jalan Keluar

Arizal menegaskan bahwa penguatan industri hilirisasi, disertai pembangunan pertanian, perikanan, dan peternakan modern berbasis teknologi terapan, merupakan jalan keluar paling rasional, berkelanjutan, dan bermartabat untuk memutus rantai kemiskinan, menekan kriminalitas, serta menyelamatkan masa depan generasi Aceh.

Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki kapasitas besar untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, menarik kembali pemuda Aceh agar membangun daerahnya sendiri, serta membentuk kemandirian ekonomi Aceh jika dikelola dengan kebijakan yang berani, transparan, dan berpihak pada rakyat.

Aceh, tegas Arizal, tidak membutuhkan janji. Aceh membutuhkan keberanian, kejujuran, dan keberpihakan nyata. Jika krisis ini terus diabaikan, penderitaan sosial akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas menegaskan bahwa reformasi tata kelola anggaran, keterbukaan kebijakan publik, dan fokus pada sektor riil bernilai tambah merupakan prasyarat mutlak untuk memulihkan harapan rakyat serta menjaga martabat Aceh di masa depan.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Aceh belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai kritik dan penilaian tersebut.(MH)

Berita Terkait

Masyarakat Bireuen Desak APH Periksa Pabrik Padi Bantuan yang Terbengkalai, Legalitas Lahan Milik Anggota DPR RI Disorot Tajam
​Hakim Perintahkan Ketua DPRD Bitung Bersaksi di Persidangan Korupsi
Targetkan 1 Juta Ton Cadangan Jagung, Polri dan Lintas Sektor Perkokoh Swasembada Pangan
Tipikor Minta Kajati Aceh Usut Kasus Dugaan Korupsi  Dinas Kesehatan Aceh Tenggara Puluhan Milyar.
Dankodaeral VIII Gerakkan Personel dan Warga dalam Aksi Peduli Lingkungan di Bitung
PT Juang Jaya Abdi Alam dan FKH UGM Jalin Kerja Sama
Aceh’s Socio-Economic Crisis Deepens amid Governance and Transparency Concerns
Aceh’s Socio-Economic Crisis Deepens amid Governance and Transparency Concerns
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 07:48

Masyarakat Bireuen Desak APH Periksa Pabrik Padi Bantuan yang Terbengkalai, Legalitas Lahan Milik Anggota DPR RI Disorot Tajam

Minggu, 8 Februari 2026 - 03:58

​Hakim Perintahkan Ketua DPRD Bitung Bersaksi di Persidangan Korupsi

Minggu, 8 Februari 2026 - 00:50

Targetkan 1 Juta Ton Cadangan Jagung, Polri dan Lintas Sektor Perkokoh Swasembada Pangan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:24

Dankodaeral VIII Gerakkan Personel dan Warga dalam Aksi Peduli Lingkungan di Bitung

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:15

PT Juang Jaya Abdi Alam dan FKH UGM Jalin Kerja Sama

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:10

Aceh’s Socio-Economic Crisis Deepens amid Governance and Transparency Concerns

Sabtu, 7 Februari 2026 - 05:18

Aceh’s Socio-Economic Crisis Deepens amid Governance and Transparency Concerns

Sabtu, 7 Februari 2026 - 05:13

Tasyakuran HUT Ke 18 DPC Partai Gerindra Kabupaten Blitar, Ingin Kompak Bergerak Dan Berdampak Bagi Rakyat

Berita Terbaru