Oleh: Chaidir Toweren (Seniman politik lokal)
TribuneIndonesia.com
Aceh, tanah Serambi Mekah yang dikenal dengan semangat juang dan sejarah panjang perjuangannya, kembali mengukir nama di panggung politik nasional. Penunjukan Sugiono sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, partai besar yang kini menjadi tulang punggung pemerintahan baru pasca Pemilu 2024, menjadi penanda bahwa peran putra-putri Aceh di tingkat nasional belum redup, bahkan semakin nyata dan strategis.
Meski nama Sugiono sebelumnya lebih banyak dikenal dalam lingkaran internal partai dan kalangan militer, putra kelahiran Aceh menjadi kebanggaan tersendiri. Ia kini menjadi salah satu figur penting dalam tubuh partai yang didirikan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto, dan dengan jabatan Sekjen, posisi Sugiono berada di jantung kebijakan dan strategi partai.
Penunjukan ini memperpanjang daftar tokoh asal Aceh yang menduduki posisi penting dalam partai politik nasional. Sebelumnya, publik telah mengenal Teuku Riefky Harsya, politisi muda yang energik dari Partai Demokrat. Ia kini juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat dan sejak menjabat anggota DPR RI serta kini menjabat sebagai Menteri Ekonomi Kreatif, dikenal aktif memperjuangkan isu-isu strategis, khususnya yang berkaitan dengan Aceh dan kawasan timur Indonesia. Riefky adalah representasi generasi baru politisi Aceh yang berhasil menembus panggung nasional melalui jalur parlemen.
Namun, jika menoleh ke belakang, peran Aceh dalam politik nasional bukanlah fenomena baru. Di masa Orde Baru, tepatnya era Presiden Soeharto, seorang tokoh Aceh pernah dipercaya memimpin partai besar dalam sistem politik yang sangat sentralistik saat itu. Ia adalah Ismail Hasan Metareum, yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ismail Hasan adalah satu dari sedikit tokoh luar Jawa yang diberi kepercayaan untuk memimpin partai politik dalam sistem politik yang begitu terkendali. Keberadaannya di pucuk pimpinan PPP menjadi simbol kuat bahwa Aceh, bahkan sejak masa itu, memiliki stok pemimpin nasional yang tangguh.
Masuk ke era reformasi, sosok Surya Paloh menjadi nama yang tak bisa dipisahkan dari politik Indonesia. Ia adalah tokoh pers sekaligus politisi senior yang kini menjadi Ketua Umum Partai NasDem. Lahir di Banda Aceh, Surya Paloh memulai karier politiknya di Golkar sebelum akhirnya mendirikan NasDem, partai yang mengusung semangat restorasi Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, NasDem menjadi kekuatan penting dalam koalisi nasional, dengan pendekatan politik yang moderat, santun, dan strategis.
Dengan tiga generasi tokoh seperti Ismail Hasan Metareum (era Orde Baru), Surya Paloh (era Reformasi), dan Sugiono–Teuku Riefky (era kontemporer), kita bisa melihat benang merah yang jelas, Aceh bukan hanya penonton dalam politik nasional, tetapi ikut serta menjadi pemain utama. Para tokoh ini datang dari latar belakang berbeda, ada yang berlatar pendidikan agama, militer, jurnalisme, hingga aktivisme politik, namun satu hal yang menyatukan mereka adalah keberanian untuk tampil dan mengabdi dalam ruang-ruang pengambilan keputusan tingkat pusat.
Apa maknanya bagi Aceh hari ini?
Pertama, tentu ini menjadi kebanggaan kolektif. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi Aceh, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga integrasi dengan arus nasional, kehadiran tokoh-tokoh asal Aceh di level pusat menjadi inspirasi bahwa anak-anak daerah bisa tampil dan bersaing secara nasional.
Kedua, ini adalah momentum strategis untuk memperkuat peran Aceh dalam pengambilan kebijakan nasional. Tokoh-tokoh ini bisa menjadi jembatan yang menjembatani kepentingan pusat dan daerah, memperjuangkan aspirasi masyarakat Aceh dalam kebijakan nasional, serta menjamin bahwa pembangunan nasional tidak mengabaikan wilayah-wilayah pinggiran.
Ketiga, ini menjadi panggilan bagi generasi muda Aceh untuk tak ragu terjun ke dunia politik dan kepemimpinan. Bahwa keterlibatan politik bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban bagi mereka yang ingin membawa perubahan. Sugiono, Riefky, dan Paloh telah membuka jalan, tinggal bagaimana generasi baru mengambil peluang itu dengan kesiapan, integritas, dan kecintaan pada tanah kelahiran.
Namun tentu, kehadiran tokoh Aceh di tingkat nasional bukanlah jaminan otomatis atas perubahan bagi daerah. Dibutuhkan sinergi antara elite politik Aceh di pusat dan kekuatan sosial-politik di daerah. Kepemimpinan lokal harus mampu membangun komunikasi politik yang sehat, bukan hanya menjadi pendukung, tetapi mitra strategis bagi tokoh Aceh di tingkat nasional. Dengan begitu, posisi strategis tokoh Aceh bukan hanya menjadi simbol, tetapi alat transformasi nyata untuk kemajuan daerah.
Aceh, dengan segala sejarah, budaya, dan identitas politiknya, selalu memiliki potensi besar untuk melahirkan pemimpin. Dari masa perjuangan kemerdekaan, ketika nama-nama seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien menjadi simbol perlawanan; hingga era kemerdekaan dan reformasi, ketika tokoh-tokoh Aceh menjadi bagian dari penentu arah bangsa.
Kini, sejarah itu berulang. Nama Sugiono menjadi babak baru dalam catatan panjang peran Aceh di kancah nasional. Ia bukan yang pertama, dan semoga bukan yang terakhir. Semoga dari ujung barat Indonesia ini, akan terus lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang membawa semangat perubahan, bukan hanya untuk Aceh, tetapi untuk seluruh negeri.