KUTACANE/Tribuneindonesia.com
Proyek pengerukan dasar sungai dan pembangunan tanggul di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bulan, Aceh Tenggara (Agara), menuai protes dari masyarakat setempat. Pasalnya, infrastruktur yang baru selesai dikerjakan dalam hitungan hari tersebut kini sudah amblas dan hanyut tak bersisa disapu derasnya arus sungai. jumat
Akibat jebolnya benteng penahan darurat tersebut, air bercampur lumpur meluap dan merendam pemukiman warga di Kute Pulonas Baru serta beberapa desa sekitarnya. Tidak hanya merusak rumah penduduk, peningkatan debit air Sungai Lawe (Kali Bulan) ini juga menyebabkan badan jalan kabupaten amblas hingga membentuk lubang besar yang menganga.
“Kami bingung melihat cara kerja pihak BPBD Agara. Bagaimana bisa jalan yang baru ditimbun dan dibentengi material sungai langsung amblas hanya dengan sekali gerusan arus,” keluh Juna, seorang warga Pulonas Baru dengan nada kecewa.
Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Wendy, warga setempat lainnya. Menurutnya, dengan hilangnya tanggul darurat tersebut, rumah-rumah warga kini dalam posisi terancam langsung oleh luapan sungai jika curah hujan kembali tinggi. “Sekarang tanggul yang dibangun sudah lenyap tak tersisa, jadi rumah warga tinggal menunggu waktu saja dihantam arus sungai,” tuturnya.
Diduga Proyek Siluman dan Tertutup
Keresahan warga kian memuncak karena proyek penanggulangan banjir ini terkesan dikerjakan secara asal-asalan dan tertutup. Sepanjang aliran sungai—mulai dari Pulo Kemiri, Penampaan, Pulonas Baru, hingga Pulo Latong—sama sekali tidak ditemukan papan nama kegiatan proyek. Warga pun menjulukinya sebagai “proyek siluman”.
“Volume pekerjaan, titik lokasi kegiatan, rekanan pelaksana, maupun sumber dananya serba rahasia dan sangat tertutup,” ungkap Edi, warga Agara lainnya yang heran melihat pengerukan dan pemasangan bronjong terus berjalan tanpa transparansi publik.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa pengerukan dasar sungai dan pembuatan benteng darurat ini dikerjakan oleh pihak BPBD Agara dengan menggunakan alokasi dana APBK 2026. Sementara itu, untuk proyek pemasangan bronjong sungai di Pulonas dikabarkan dikerjakan oleh pihak ketiga atas nama Asrizal alias Obol Camcun. Di sisi lain, selain bersumber dari Pokir DPRK dan BPBD, pihak BWS Sumatera I juga mengucurkan anggaran fantastis sebesar Rp100 miliar pada tahun 2026 ini untuk proyek penahan tebing Sungai Lawe Bulan dan Sungai Lawe Kinga.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Pelaksana BPBD Agara, Mohd. Asbi, memilih bungkam. Saat dikonfirmasi terkait total anggaran, volume proyek, sumber dana, serta legalitas pelaksana pengerukan sungai Kali Bulan tersebut, ia sama sekali tidak memberikan jawaban. Warga berharap pihak berwenang segera turun tangan mengaudit proyek ini sebelum bencana banjir yang lebih besar memakan korban.














