Bitung | Tribuneindonesia.com – Setiap insan memiliki garis perjalanannya masing-masing dalam menggapai impian masa depan. Hal inilah yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih puncak kesuksesan di militer, Sabtu (03/10/26).
Di tanah kelahirannya, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sosok perwira menengah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) ini akrab disapa oleh para tetangga dan kerabat dekatnya dengan panggilan Mas Riyanto.
Masa remaja pria yang menuntaskan pendidikannya di SMAN 3 Kediri jurusan Biologi (A2) pada tahun 1992 ini mulanya diwarnai oleh cita-cita sederhana yang mulia.
Saat memegang ijazah SMA, ia menyimpan impian besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan berhasrat menempuh studi di Fakultas Kedokteran.
Namun, keterbatasan finansial keluarga yang tergolong sederhana memaksa pemuda Kediri tersebut harus mengubur impiannya menjadi seorang dokter.
Arah jalan hidupnya mulai berubah drastis pada awal tahun 1993, ketika tujuh orang temannya datang untuk mengajak mendaftar Calon Bintara (CABA) TNI AL.
Berbekal keberanian dan modal awal yang hanya sekadar ikut-ikutan rekan sejawatnya, Andreas nekat mengikuti seluruh rangkaian proses seleksi masuk prajurit.
Hasil takdir berkata lain; dari rombongan temannya tersebut, justru hanya Andreas yang berhasil dinyatakan lulus dan berhak mengikuti Pendidikan DIKCABA MILSUK XII/1 tahun 1993 bersama 1.041 siswa lainnya.
Setelam menuntaskan pendidikan bintara, ia mengawali dinas aktifnya di KRI Siribua-859 Satuan Patroli Armada Barat (Satrol Armabar) dengan mengemban amanat sebagai Bintara Navigasi (BANAGI).
Semangat untuk terus berkembang mendorongnya mengambil peluang baru pada tahun 1998 dengan mengikuti tes Calon Perwira Penerbang TNI AL hingga lulus dan resmi menyandang pangkat Letnan Dua (Letda).
Pengabdian bertahun-tahun di matra laut membuahkan hasil manis, di mana kini ia telah resmi menyandang pangkat Kolonel dan dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Penerangan Kodaeral VIII (Kadispen Kodaeral VIII).
Di lingkungan perwira dan insan pers, pimpinan dinas penerangan ini akrab dipanggil Bang Andre oleh para awak media yang mengenalnya sebagai pribadi yang murah senyum serta mudah bergaul.
Sikapnya yang kerap bercanda hangat dengan orang-orang yang baru ditemuinya membuat sang Kolonel cepat melebur dan membangun keakraban dengan siapa saja.
Pencapaian pangkat Kolonel tersebut tidak diraih secara instan, melainkan melalui rekam jejak jabatan strategis seperti Pasops Satuan Udara Koarmada II, Komandan Puslat Penerbal, Wadan Kolat Penerbal, hingga Pasops Satuan Udara Koarmada RI.
Di luar aktivitas tugas kemiliteran, perwira asal Bumi Panjalu ini sangat mencintai budaya Nusantara dan memegang teguh falsafah Jawa “Alon-Alon Waton Kelakon” yang bermakna melangkah perlahan namun pasti mencapai tujuan.
Kepedulian budayanya dibuktikan secara nyata melalui pendirian Yayasan Panjalu Jayati Kadhiri di mana ia bertindak sebagai Pendiri sekaligus Pembina, serta keterlibatannya memprakarsai komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) cabang Kediri, aktif di dunia Tosan Aji, menjadi narasumber budaya di stasion radio, hingga memimpin organisasi Pencak Silat di Juanda Sidoarjo dan Kabupaten Kediri.
Memasuki masa purna tugas kelak, Kolonel Andreas telah memantapkan niat untuk kembali ke kampung halaman demi membangun tanah kelahirannya di Kediri melalui sektor pengembangan budaya dan pariwisata.
Atas anugerah kenaikan pangkat ini, ia menyampaikan rasa syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa serta apresiasi setinggi-tingginya kepada pimpinan TNI AL, sembari menegaskan bahwa seluruh proses kariernya murni tanpa biaya sepeser pun (0 Rupiah) sehingga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu. (kiti)













