TribuneIndonesia.com | Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Tepat pukul 10.00 waktu setempat, raungan sirene memecah keheningan di seantero Israel, memaksa warga berhamburan mencari perlindungan.
Peringatan dini ini muncul hanya berselang dua jam setelah proyektil pertama hasil kolaborasi militer Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam jantung wilayah Iran pada pukul 08.10 waktu Tel Aviv, dilansir dari harian kompas.
Serangan balasan Tehran tidak menunggu lama untuk tiba. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) segera merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi peluncuran gelombang rudal dan pesawat nirawak menuju apa yang mereka sebut sebagai “wilayah terjajah”.
Bagi Iran, serangan ini adalah jawaban atas tindakan yang mereka labeli sebagai agresi dari “musuh jahat dan kriminal“ terhadap kedaulatan Republik Islam.
Di garis depan, militer Israel atau Tzahal segera mengaktifkan protokol darurat. Melalui saluran komunikasi resminya, Tzahal mengonfirmasi adanya armada rudal Iran yang tengah membelah langit menuju sasaran-sasaran strategis.
Instruksi tegas dikeluarkan: warga diminta tetap berada di dalam bunker seiring upaya keras pertahanan udara Israel menghalau penetrasi proyektil lawan.
Dentuman pertama di wilayah Israel justru terdengar di bagian utara. Mengutip laporan Aljazeera, ledakan tersebut berasal dari rudal pencegat yang melumpuhkan perangkat serangan kiriman Tehran.
Hingga saat ini, jenis teknologi maupun spesifikasi alutsista yang digunakan Iran dalam serangan pembuka tersebut masih menyisakan teka-teki, lantaran otoritas militer kedua belah pihak masih menutup rapat informasi teknisnya.
Secara geografis, konflik ini harus melintasi bentang alam yang rumit. Meski titik terdekat perbatasan kedua negara berjarak sekitar 990 kilometer, lintasan rudal-rudal tersebut dipastikan melewati ruang udara negara ketiga.
Irak, Suriah, dan Yordania terjepit di tengah pusaran api, sementara di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi turut mengawasi dengan cemas.
Posisi Yordania kembali menjadi krusial dalam peta konflik ini. Berkaca pada insiden Juni 2025, Amman kembali menjadi palang pintu utama untuk mencegat proyektil Iran yang menuju Israel.
Keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di hampir seluruh negara Arab tersebut mempertegas keterlibatan Washington dalam membentengi sekutu utamanya dari serangan jarak jauh.
Tehran sendiri tampaknya telah lama mempersiapkan skenario ini. Dengan doktrin militer yang tidak mengakui eksistensi Israel, Iran telah mengembangkan berbagai varian rudal balistik dan jelajah yang diklaim mampu menjangkau target di Israel hanya dalam hitungan menit.
Koleksi persenjataan ini menjadi kartu as IRGC dalam upaya mereka melakukan perimbangan kekuatan di kawasan.
Kini, Timur Tengah berada dalam ketidakpastian yang mencekam. Jarak ribuan kilometer bukan lagi menjadi penghalang bagi kedua kekuatan ini untuk saling hantam.
Di saat diplomasi internasional buntu, langit di atas Baghdad, Damaskus, hingga Amman kini menjadi panggung bagi adu kecanggihan teknologi penghancur yang bisa menyeret kawasan tersebut ke dalam lubuk peperangan yang lebih dalam. (*–Talia)



















