Bitung | Tribuneindonesia.com – Putri Bitung, Sanaya Martines Sariallo, menyerukan pentingnya aksi nyata generasi muda dalam memperbaiki ekosistem alam serta mempromosikan potensi pariwisata daerah, Sabtu (10/10/26).
Langkah ini menjadi fokus utamanya usai meraih mahkota pada ajang pemilihan tahunan paling bergengsi di Kota Bitung tersebut.
Perempuan kelahiran Sorong, 7 Juni 2005 ini yang mendapatkan rekomendasi dari PWI dan KPU Kota Bitung mengungkapkan bahwa gelombang cuaca panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah membawa dampak buruk yang luas.
Fenomena tersebut tidak hanya merugikan sektor pariwisata, tetapi juga memicu polusi udara yang mengancam kesehatan masyarakat.
Menanggapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat terjadi, Sanaya menaruh perhatian besar pada program penghijauan kembali.
Ia berkomitmen memimpin gerakan penanaman pohon untuk memulihkan kawasan yang terdampak cuaca ekstrem tersebut.
Sanaya menyoroti kawasan Batu Angus dan Taman Wisata Alam (TWA) sebagai target utama pemulihan ekosistem. Menurutnya, kedua destinasi tersebut merupakan jantung pariwisata unggulan yang menjadi kebanggaan warga Kota Bitung.
Upaya perbaikan ekosistem di objek wisata unggulan ini tidak hanya bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan. Sanaya menegaskan bahwa kelestarian alam secara langsung akan mendongkrak perekonomian masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.
Mahasiswi FISUniversitas Sam Ratulangi Manado yang bercita-cita menjadi diplomat ini menilai bahwa kolaborasi lintas generasi sangat mendesak. Pembicaraan dan diskusi mengenai isu lingkungan harus memicu tindakan konkret di lapangan, bukan sekadar menjadi wacana di atas kertas.
Bagi Sanaya, keberhasilannya menyabet gelar Putri Bitung merupakan pencapaian yang sangat luar biasa dan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tumbuh sebagai anak biasa di lingkungan tempat tinggalnya dari lahir hingga saat ini.
Berangkat dari latar belakang sederhana, alumni SD Katolik Girian, SMP Negeri 1 Girian, dan SMA Negeri 1 Girian ini kini bertransformasi menjadi sosok yang berada di bawah sorotan publik.
Ia memanfaatkan posisi tersebut sebagai platform untuk menyebarkan pengaruh positif.
Sanaya mengajak seluruh generasi muda Kota Bitung untuk mengambil peran aktif dalam memajukan daerah. Ia mendorong anak muda untuk berani menampilkan bakat dan talenta mereka demi mendukung pengembangan budaya serta pariwisata lokal.
Melalui ajang-ajang kreatif dan event daerah seperti Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL), Sanaya optimistis pemuda dapat berkontribusi secara langsung. Partisipasi aktif generasi muda akan memperluas promosi agar kebudayaan Bitung makin dikenal di kancah nasional maupun internasional.
Selain isu lingkungan dan pariwisata, Putri Bitung ini juga menaruh kepedulian mendalam terhadap persoalan kenakalan remaja.
Ia menyoroti fenomena anak muda yang terjebak dalam pergaulan serta lingkungan negatif selama beberapa waktu terakhir.
Sanaya menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama pertahanan anak. Menurut pengamatannya, dukungan dan perhatian dari keluarga terdekat menjadi kunci utama untuk menarik anak-anak keluar dari lingkaran aktivitas negatif.
Untuk mengatasi permasalahan sosial tersebut, Sanaya merancang strategi edukasi berbasis komunitas. Ia berencana menggandeng berbagai organisasi kepemudaan untuk menggelar rangkaian kegiatan positif yang dapat merangkul para remaja.
Melalui program-program kreatif dan edukatif, Sanaya ingin menyediakan wadah pembinaan yang sehat bagi anak-anak muda.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengalihkan energi para remaja ke hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat bagi masa depan mereka.
Sanaya Martines Sariallo membuktikan bahwa gelar Putri Bitung bukan sekadar tentang penampilan luar. Melalui dedikasi pada pemulihan lingkungan Batu Angus, promosi pariwisata, dan penanganan isu sosial remaja, ia siap membawa perubahan nyata bagi kemajuan Kota Bitung. (kiti)













