Konplik Sengketa Lahan Sawit Antara Warga Bukit Linteung Dengan salah seorang warga Desa Seureke

- Editor

Minggu, 22 Juni 2025 - 05:22

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Utara, TribuneIndonesia.com

Konflik lahan sawit di Aceh Utara tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga lingkungan. Perlu adanya upaya serius dari semua pihak untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan, serta mencegah terjadinya konflik yang lebih besar.
Penyelesaian sengketa tanah diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

Konflik lahan sawit yang terjadi di Desa Buket Linteung penyebab utama adalah ketidakjelasan status hukum tanah. Status tanah yang tidak tercatat secara sah atau tidak memiliki sertifikat resmi, maka menjadi titik awal perselisihan. Kemudian Pengalihan tanah kepada pihak lain yang tidak sah, seperti jual beli tanah yang tidak melibatkan notaris atau tidak sesuai prosedur hukum yang berlaku.”masyarakat sedang menanti kepastian hukum yang jelas”.

kasus sengketa lahan sawit yang terlibat antara warga Desa Buket Linteung dan salah seorang warga Desa Seureke yang bersengketa mengenai kepemilikan lahan kebun sawit. Dikutip dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kustiono warga Desa Seureke mengaku sebagai pemilik tunggal yang mengklain lahan sawit seluas 110 Ha miliknya, yang beli dari seseorang bernama Sudikan warga Desa Seureke yang juga ketua KUD Sejahtera Mandiri. Dan yang lebih aneh lagi dalam sertifikat yang dipegang oleh kuswanto di paket 15 beralamat Desa Seureke bukan Desa Buket Linteung.

Seorang warga Buket Linteung, yang tak inggin namanya di tulis, menyebutkan, sengketa lahan sawit ini sedang bersengketa di Pengadilan Negeri Lhoksukon, sudah 4 kali mengikuti persidangan.” Sebutnya.

Yang menjadi alasan dan materi gugatan adalah, kustiono warga Desa Seureke sebagai pemilik tunggal yang mengklain lahan sawit seluas 110 Ha miliknya, dan sebagai pemengang sertifikat sah akan tanah tersebut. Yang menjadi masalah adalah dalam sertifikat tersebut beralamat Desa Seureke,bukan Buket Linteung, makanya ini perlu penjelasan”jelasnya.

Sedikit mengali sejarahnya tanah ini, adalah tanah adat masyarakat Buket Linteung, dan telah dikelola secara turun menurun ke anak cucu.dan status desa Buket Linteung telah ada dari pada Program Translok yang dicanang Pemerintah.

Sekitar tahun 1992 saat komplik DOM ( Daerah Operasi Militer ) di Aceh. seluruh masyarakat Buket Linteung dengan keras menolak tanah adat mereka di masukkan didalam Program PIR ( Pekebunan Inti Rakyat) yang dikelola KUD Sejahtera Mandiri. Yang aneh lagi di lokasi tanah paket 15 tersebut tidak ada tanaman sawit milik KUD, tanaman keras seperti durian, pinang coklat,rambu, kemiri dan jeruk, dan tanaman sawit milik warga Buket Linteung, merupakan bantuan bibit sawit dari Dinas Perkebunan Aceh Utara, milik warga buket Linteung.

Di tahun 2019 masuklah program Replanting dari KUD mandiri Sejahtera, disinilah seluruh masyarakat pemengang hak tanah adat mengetahui bahwa lahan seluas 110 Ha telah di rampas oleh pihak KUD, sehingga pada saat terjadilah ketegangan ( komplik) antara KUD dengan masyarakat pemilik tanah adat. sehingga pihak KUD menurunkan APH ( aparat penegak hukum), dalam ketengangan pada saat sempat terjadinya letusan senjata api di lokasi PIR tersebut untuk menghalau ketegangan.

Baca Juga:  Kajari Aceh Yudi Triadi.S.H.M.H, Resmikan Klinik Pratama Adhyaksa Kejari Bireuen 

Dalam kasus ini tercium adanya indikasi korupsi atas penunjukan lahan untuk Program replanting di tahun 2018 dimana lahan tersebut bukan lahan yang sudah ada pohon sawitnya indikasi korupsi yg dilakukan oleh Sudikan selaku ketua KUD Sejahtera Mandiri yang mengajukan program Replanting dan ke dinas perkebunan dan Kehutanan Aceh Utara yang melaksanakan program tersebut. Diduga KUD dan dinas Perkebunan dan kehutanan Aceh Utara telah melakukan kecurangan dengan mengorbankan masyarakat desa buket Linteung di program replanting. Karena Program replanting diatur dalam peraturan perundangan, seperti Permentan No. 18 Tahun 2016 dan Permentan No. 3 Tahun 2022, yang mencakup persyaratan teknis, administrasi, dan kelembagaan.

Aroma korupsinya adalah program replanting melalui pembiayaan Negara atas replanting per hektare sekitar 40 juta rupiah, pada hal secara aturan dan pengertian replanting harus dilakukan dilahan yg sudah ada sawitnya, bukan menebang batang durian atau pun pohon lain.

Akibat konplik sengketa lahan pihak Muspika Kecamatan Langkahan telah menetatapkan Tapal Batas, lahan yang bersengketa masuk dalam wilayah administrasi desa buket Linteung sesuai dengan batas lama sebelum terbentuknya Translok desa Serke.

Sumber Menambahkan Meskipun proses sengketa lahan masih berlangsung di pengadikan Negeri Lhok Sukon, penjarahan panen buah sawit masih terus dilakukan oleh pihak Kustiono dan Kroni-kroninya, dan sampai Pada sabtu 21/06/2025, masih terus dilakukan sampai saat ini.makanya masalah kita ajukan kepengadilan supaya kami masyarakat Buket Linteung mendapat keadilan karena hak kami masyarakat telah dirampas oleh oknum Mafia Tanah “ungkapnya

Untuk mengali informasi yabg akurat media sempat menjambangi kediaman Kustiono, dan sempat terjadi ketengangan yang dilakukan oleh anaknya yang sedikit arogan mengaku sebagai Bhabinkamtibmas anggota Polsek Langkahan.

Dikutip dari berbagai sumber menjelaskan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (“UUPA”), hak milik atas tanah adalah hak yang paling kuat dan memberikan perlindungan hukum yang sah bagi pemiliknya.

Pasal 20 Ayat (1) UUPA menegaskan bahwa pemilik hak milik memiliki hak penuh untuk menguasai dan menggunakan tanah sesuai dengan peruntukannya. Dalam hal ini, pemilik tanah memiliki hak untuk mempertahankan tanah mereka dari klaim pihak lain yang tidak sah.

Dan sengketa lahan yang terjadi diantara warga Desa Buket Linteung dan salah seorang warga Desa Seureke dan Badan Pertanahan Nasional (BPN), memiliki kewenangan dalam penanganan dan penyelesaian sengketa tanah, baik sebagai mediator maupun pihak yang terlibat dalam proses peradilan.

BPN juga bertanggung jawab dalam penerbitan produk hukum terkait pertanahan, yang bisa menjadi sumber sengketa jika ada ketidaksesuaian atau kesalahan administrasi.(ssl)

Berita Terkait

Addressing the Geopolitical Crisis Involving the Middle East and Saudi Arabia: Here Is the Official Statement from the King of Morocco
Tim Sepak Bola Kecamatan Kota Juang berhasil Final Piala Bupati Bireuen
Cegah Penyalahgunaan Medsos, Judol dan Pinjol, Propam Polres Bireuen Sidak HP Personel
BREAKING NEWS! APBD Perubahan Raja Ampat Disahkan, Mansur Shadan: Setiap Rupiah Harus Berdampak ke Rakyat
Dibantah Kepala Satpol PP, Endi Tetap Bawa Dugaan Ancaman Wartawan ke Polda PBD”.
UBHARA JAYA RAYAKAN DIES NATALIS KE-31, 497 LULUSAN DILANTIK  
GEGER! Kantor Desa Paya Metah Karang Baru Diduga Numpang di Rumah Pribadi Datok, Dana Sewa Kemana?
Eks GAM Denmark: Aceh Harus Melegalisasi Izin Tambang Emas Rakyat
Berita ini 266 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:41

BREAKING NEWS! APBD Perubahan Raja Ampat Disahkan, Mansur Shadan: Setiap Rupiah Harus Berdampak ke Rakyat

Selasa, 29 September 2026 - 13:57

Dibantah Kepala Satpol PP, Endi Tetap Bawa Dugaan Ancaman Wartawan ke Polda PBD”.

Selasa, 29 September 2026 - 12:20

Job Fair 2026. Lowongan Terbuka, Kompetensi Masih Jadi Soal

Selasa, 29 September 2026 - 11:02

JALAN NASIONAL DESA KUNING I ACEH TENGGARA HANCUR LEBUR BAK KUBANGAN KERBAU, LSM KPK-RI SEMPROT TEGAS KINERJA BPJN

Selasa, 29 September 2026 - 05:22

Selamat datang Peserta Pendidikan dan Pelatihan Laskar Gerindra Kabupaten Simeulue Tahun 2026.

Senin, 28 September 2026 - 16:33

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan

Senin, 28 September 2026 - 15:29

BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal

Senin, 28 September 2026 - 12:21

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Berita Terbaru

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x